Pilpres 2019, Menteri Darmin: Pasar Tak Perlu Khawatir

Penulis: Rizky Alika

Editor: Dini Hariyanti

Jum'at 10/8/2018, 16.53 WIB

Pemerintah melalui Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengimbau agar investor tidak perlu wait and see.

Darmin Nasution
Arief Kamaludin|KATADATA

Panggung politik jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 menarik untuk diikuti terutama pascadeklarasi salah satu pasangan capres-cawapres. Pasalnya, kepercayaan pelaku bisnis dikhawatirkan terimbas dinamika yang ada.

 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, sikap menahan diri alias wait and see dari para investor semakin berkurang. "Semestinya (investasi) baik-baik saja karena pasangan (capres-cawapres) tidak ada yang membuat pasar harus khawatir," katanya, Jakarta, Jumat (10/8).

 

Pemerintah dalam hal ini Kemenko Bidang Perekonomian meyakini, tidak akan terjadi gesekan di antara pelaku usaha maupun calon investor pascadeklarasi capres-cawapres. Andaikan mosi tidak percaya di kalangan investor menguat idealnya mereka sudah mengambil sikap sekarang. 

 

(Baca juga: Pilpres 2019, Pasar Modal Kebal terhadap Dinamika Politik)

 

Meskipun isu politik semakin santer menjadi buah bibir, Darmin tetap optimistis pertumbuhan investasi mampu menyentuh 7% pada pengujung tahun ini. Apalagi, perizinan usaha dibikin lebih mudah melalui program Online Single Submission (OSS). 

 

Lebih dari itu, imbuh Darmin, insentif perpajakan juga dikeluarkan pemerintah guna mendorong pertumbuhan investasi. Sebut saja, tax holiday, tax allowance, mini tax holiday, serta super deduction.

 

Secara terpisah, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri menyampaikan, tidak ada efek negatif dari dinamika politik jelang pilpres terhadap investasi. "Mereka sudah kebal sama politik, jadi tidak ada yang wait and see," katanya kepada Katadata, Kamis (9/8).

 

Namun soal pertumbuhan investasi yang dibidik 7%, menurut Faisal, pemerintah sebetulnya sadar bahwa angka ini tidak mudah dicapai. Oleh karena itu, konsumsi rumah tangga dijadikan tumpuan guna mendongkrak roda ekonomi melalui gelontoran dana desa dan bantuan sosial. 

 

Mengacu kepada data Badan Pusat Statistik (BPS) diketahui, pertumbuhan investasi pada kuartal kedua tahun ini 5,87% secara year on year (yoy). Adapun pada tahun-tahun lampau perinciannya a.l. 5,35% (triwulan II/2017), 5,06% (2016), 3,55% (2015), 4,53% (2014), dan 4,53% (2013).