Karyawan Freeport Adukan Menteri Hanif atas Dugaan Maladministrasi

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Yuliawati

Kamis 30/8/2018, 16.15 WIB

Hanif dilaporkan lantaran dianggap lalai menjalankan tugasnya melakukan pengawasan.

Demo Freeport
ANTARA FOTO/Spedy Paereng
Sejumlah karyawan korban PHK PT Freeport Indonesia berunjuk rasa di Cek Point Mile 28, Timika, Papua, Sabtu (19/8/2017).

Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri dilaporkan oleh para karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI) ke Ombudsman, Kamis (30/8). Hanif dilaporkan lantaran dianggap lalai menjalankan tugasnya melakukan pengawasan atas pelaksanaan tugas dan kegiatan teknis Kemenaker dari pusat sampai ke daerah.

Kuasa hukum karyawan Freeport, Haris Azhar mengatakan, Hanif telah lalai menampung laporan dari 8.300 kliennya yang diputus hubungan kerja secara sepihak oleh perusahaan. Haris menjelaskan, awalnya kliennya telah berkirim surat Nomor ADV.109/PUK SPKEP SPSI PTFI/II/2017 pada 26 Februari 2017 kepada Kemenaker.

Surat tersebut dilayangkan untuk meminta bantuan kepada Kemenaker untuk membantu penyelesaian masalah ketenagakerjaan yang dialami pada karyawan Freeport. Menindaklanjuti hal tersebut, Hanif pun mengeluarkan Keputusan Menaker Nomor 43 Tahun 2017 tentang Tim Pemantau dan Pencegah Permasalahan Ketenagakerjaan di PT Freeport Indonesia.

"Meski telah terbentuk setahun, belum ada hasil nyata dari kerja tim yang dibentuk Hanif," kata Haris di gedung Ombudsman, Jakarta.

(Baca juga: Jokowi Terbitkan Aturan PNBP Tambang, Pajak Freeport Bisa Turun)

Lantas Haris kembali berkirim surat Nomor 100/SK-Lokataru/XII/2017 tertanggal 7 Desember 2017 kepada Direktur Pengawas Tenaga Kerja Kemenaker untuk meminta audiensi terkait pengaduan tindak lanjut perselisihan hak karyawan Freeport.

Hanya saja, audiensi tersebut tak pernah diselenggarakan. Haris mengatakan, salah seorang staf Pembinaan Pengawasan Tenaga Kerja dan K3 (Binwasnaker & K3) pada 12 Februari 2016 sempat menghubunginya untuk mengagendakan audiensi.

Namun rencana tersebut dibatalkan sepihak lantaran pimpinan Binwasnaker & K3 tak dapat menemui para karyawan Freeport.  Pada rentang waktu berdekatan, yakni 21 Desember 2017, Kemenaker malah memfasilitasi pertemuan dengan Kementerian ESDM, tenaga ahli Komisi IX DPR, Disnakertrans Kabupaten Mimika, PT Freeport, serta SP KEP SPSI.

Dari pertemuan tersebut muncul nota kesepahaman tentang pengakhiran hubungan kerja, pembayaran uang pisah, serta hak-hak lainnya tanpa melibatkan para karyawan Freeport yang tengah bersengketa pada 27 Desember 2017.

Haris pun kembali mengirimkan surat Nomor 108/SK-Lokataru/XII/2018 kepada Kemenaker untuk kembali meminta audiensi. Menurut Haris, audiensi ditujukan untuk menyampaikan bahwa nota kesepahaman yang dibuat tidak sah dan mengikat kepada para kliennya.

"Kami bilang ini kesepakatan ilegal, kalau diteruskan kami akan laporkan. Jadi mereka persengkokolan jahat," kata Haris.

(Baca: Bos Freeport: Lebih dari 70% Keuntungan Freeport Buat Indonesia)

Hanya saja, permintaan audiensi tersebut ditolak oleh Kemenaker. Bahkan, Haris menyebut para kliennya diperlakukan tidak sopan oleh pihak keamanan Kemenaker.

Selain itu, salah satu staf Kemenaker yang menerima surat audiensi memberikan nomor telepon yang salah dan tidak dapat dihubungi. "Jelas terlihat tidak ada itikad baik dari Kemenaker menerima permintaan kami bertemu Bapak Hanif untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi terhadap karyawan Freeport," kata Hanif.

Terjadinya rentetan peristiwa tersebut lantas membuat para karyawan Freeport pada 7 Agustus 2018 mendatangi gedung Kemenaker, Jakarta. Kedatangan mereka bertujuan untuk dapat berdialog dan meminta pertanggungjawaban Hanif.

Meski sudah tiga hari menginap di depan gedung Kemenaker, permintaan para karyawan Freeport tak juga mendapat respons. Alih-alih, Kemenaker malah mengunggah video yang menggambarkan para karyawan Freeport bersalah dan melakukan perbuatan melawan hukum di akun Instagram-nya pada 16 Agustus 2018.

"Kami tegaskan video tersebut merupakan kebohongan secara nyata, memutarbalikkan fakta dari peristiwa yang sesungguhnya, serta terkesan seperti juru bicara Freeport," kata Haris.

Selain melaporkan Hanif, Haris bersama 40 karyawan Freeport mendatangi Ombudsman untuk meminta pertanggungjawaban atas beberapa laporan lainnya. Beberapa laporan tersebut yakni seperti dugaan maladministrasi Haryani dan penyiksaan yang dilakukan polisi terhadap karyawan Freeport, yang ditutup perkaranya.

Laporan terkait dicabutnya BPJS Kesehatan kepada 8300 karyawan Freeport yang bersengketa pun juga ditanyakan oleh Haris. Pasalnya, hingga saat ini laporan tersebut belum ditindaklanjuti oleh Ombudsman.

Haris pun mengultimatum Ombudsman untuk segera memproses berbagai laporan yang dibuat karyawan Freeport dalam sepekan. Jika hal tersebut tak dilakukan, Haris mengancam akan membawa jumlah massa yang lebih besar datang ke Ombudsman. Saat

"Senin kami ke sini lagi, menunggu hasil follow up dari Ombudsman," kata Haris.

 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha