Madusari Murni Siap Pasok Bahan Bakar Nabati Campuran Bensin

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Safrezi Fitra

Kamis 30/8/2018, 19.36 WIB

Arief mengatakan biaya produksi etanol untuk bahan bakar lebih murah dibandingkan untuk makanan.

Biofuel
Katadata - Arief Kamaludin

PT Madusari Murni Indah Tbk menyatakan siap menjadi perusahaan yang memasok bahan bakar nabati untuk campuran bensin (bioetanol). Bahkan, perusahaan ini ingin menjadi perusahaan pertama yang ikut andil dalam mengurangi pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM) fosil.

“Sangat mungkin (memasok). Itu kan energi terbarukan, kalau pakai minyak, kan fosil yang lama-lama habis dan indonesia. Ke depan harus mendukung (pemakaian bioetanol) itu,” kata Direktur Utama Madusari Arief Goenadibrata di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (30/8).

Menurutnya, sejauh ini pemerintah sudah mulai melakukan uji kelayakan pada produk etanol yang diproduksi oleh perusahaannya untuk menggantikan sebagian BBM. Namun, dia belum bisa memastikan apakah pemerintah akan mengeluarkan kebijakan yang sama, seperti yang dilakukan untuk solar (biodiesel).

(Baca: Kementerian ESDM Keluarkan Aturan Kewajiban B20 dan Sanksinya)

Arief mengaku belum mengetahui apakah keekonomian etanol layak untuk menggantikan BBM. Ini masih harus dihitung lagi. Meski begitu, dia memperkirakan biaya produksi etanol untuk bahan bakar bisa lebih murah dari produk etanol yang selama ini diproduksi perusahaannya.

“Etanol itu disuling sampai level tingkat kemurniannya sampai food grade (aman dikonsumsi). Kalau yang untuk bioetanol ini kan production cost-nya jauh lebih murah karena tidak peduli harus food grade,” kata Arief.

Dia pun yakin harga yang akan ditetapkan oleh pemerintah ke depannya, tidak akan sampai membuat perusahaannya merugi. Pemerintah pasti akan melihat apakah subsidi yang diberikan melalui campuran bioetanol nanti, bisa lebih masuk akal dibanding subsidi minyak saat ini. “Pasti ada hitung-hitungan itu,” kata Arief.

Hari ini Madusari Murni yang berdiri sejak 1965 di Malang resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan etanol tertua di Indonesia ini melepas 351 juta lembar saham atau 15,03% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

Dana hasil penjualan sahamnya akan dipakai untuk meningkatkan produksi etanol hingga 62,5%. Dengan ekspansi ini, kapasitas produksi MOLI akan meningkat 62,5%. Tambahan pabrik baru akan membuat perusahaan mampu memproduksi etanol 130 juta liter per tahun pada 2020. Saat ini perusahaan hanya mampu memproduksi 80 juta liter.

"Kapasitas produksi kami itu sudah mentok, tidak bisa cari uang lagi, selain cari uangnya dari selisih kurs," kata Arief.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha