Bahas Investasi Hyundai, Presiden Akan Bertolak ke Korea Selatan

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

Senin 3/9/2018, 16.55 WIB

Saat ini banyak investor Korea Selatan menahan diri berinvestasi di Indonesia karena menganggap persaingan di dalam negeri ketat, terutama dengan Jepang.

Pabrik Mobil Sokon
Arief Kamaludin|Katadata
Seorang pekerja di pabrik mobil Sokon.

Presiden Joko Widodo (Joko Widodo) berencana bertolak ke Korea Selatan guna membahas sejumlah isu penting terkait peningkatan investasi dan ekspor Indonesia. Sejumlah menteri di bidang perekonomian pun diminta menyiapkan bahan agar kunjungan presiden membuahkan hasil yang maksimal dan  mencapai target yang diinginkan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan salah satu investasi yang sedang disasar pemerintah dari perusahaan Negeri Ginseng, adalah investasi pembangunan pabrik milik perusahaan otomotif Hyundai.

“Perkembangan dari sana belum ada, presiden akan ke sana untuk berkomunikasi supaya lebih jelas,” kata Darmin di Jakarta, Senin (3/9).

Dia mengakui sebelumnya sudah ada permintaan dan pembicaraan tak resmi dari Hyundai tentang investasi, meski detailnya masih belum jelas. Oleh karena itu, kunjungan presiden ke negeri ginseng mesti dipersiapkan secara matang agar bisa mencapai target di bidang investasi.

(Baca : Dari Toyota hingga VW, Perusahaan Otomotif Berlomba Danai Taksi Online)

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menuturkan pemerintah sudah menyiapkan berbagai insentif pajak untuk perusahaan asing yang berinvestasi di Indonesia. Untuk investasi otomotif seperti Hyundai, ada pula pembahasan terkait penyediaan insentif Pajak Penghasilan Barang Mewah (PPnBM) di tingkat Kementerian Keuangan.

Sedangkan jika investasi pabrik otomotif memiliki nilai dan kapasitas besar serta mampu memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada hasil produksinya, pemerintah juga bisa memberikan insentif tax holiday atau pembebasan pajak periode tertentu.

“Banyak perusahaan komponen dalam negeri meminta agar diberlakukan SNI (Standar Nasional Indonesia) secara lebih ketat, karena bisa mengurangi impor,” ujar Airlangga.

Sebelumnya, Korea International Trade Association atau KITA menyebut minat pengusaha Korea Selatan untuk berinvestasi di Indonesia kerap terganjal pertimbangan bisnis. Karenanya, banyak investor asing Korsel menahan diri lantaran menilai persaingan di pasar Indonesia cukup ketat.

(baca juga : Pemerintah Bentuk Kantor Khusus untuk Kawal Investor Besar)

Chief Representative KITA Jakarta Center Daniel Kweon menuturkan, pada saat memutuskan menanamkan kapitalnya di Indonesia maka para investor asal Korea Selatan harus siap bersaing dengan  perusahaan Jepang dan China yang sudah eksis lebih dulu.

Tantangan utama dalam perdagangan RI-Korsel bukan sekadar soal hambatan tarif maupun nontariff, tapi juga niat pada diri investor sendiri. “Tantangannya bukan nontariff barrier saja, seperti regulasi, tetapi lebih kepada willingness mereka sendiri,” kata Daniel, bulan lalu.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha