Ditopang Subsektor Tanaman Pangan, Nilai Tukar Petani Naik 0,89%

Penulis: Rizky Alika

Editor: Ekarina

Senin 3/9/2018, 18.32 WIB

Nilai Tukar Petani (NTP) pada Agustus 2018 mencatat kenaikan 0,89% dibanding Juli 2018. Peningkatan ditopang oleh sektor tanaman pangan dan hortikultura.

Petani Jeruk
Katadata

Daya beli petani di pedesaan mengalami peningkatan. Hal itu tercermin dari meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 0,89% pada Agustus 2018 menjadi 102,56  dibanding Juli 2018 sebesar 101,66, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).

"Kenaikan NTP ini terjadi di seluruh subsektor kecuali untuk tanaman perkebunan," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Senin (3/9).

NTP menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk kebutuhan produksi. Dengan demikian, NTP membandingkan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula kemampuan atau daya beli petani.

(Baca : Harga Bahan Makanan Turun, BPS Catat Deflasi 0,05% pada Agustus)

Sementara itu,  Suhariyanto menjelaskan kenaikan NTP pada Agustus lalu dipengaruhi oleh peningkatan harga pada subsektor tanaman pangan sebesar 1,28%, hortikultura 0,94%, peternakan 1,7%, dan perikanan 0,43%. Kenaikan NTP tanaman pangan terjadi sejalan dengan adanya peningkatan harga gabah, jagung, dan ketela pohon.

Sedangkan NTP pada tanaman perkebunan rakyat tercatat menurun sebesar 0,56%. 

Turunnya NTP perkebunan tercermin dari turunnya indeks harga yang diterima oleh petani sebesar 0,70% atau lebih tinggi dibanding penurunan pada indeks harga yang dibayar oleh petani sebesar 0,15%. Penurunan indeks harga yang diterima petani antara lain disebabkan turunnya indeks kelompok tanaman perkebunan rakyat, khususnya komoditas kakao dan kelapa sawit.

(Baca juga : Jaga Inflasi, Pemerintah Diminta Cermati Harga Beras)

Di sisi lain, BPS mencatat nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP) Agustus sebesar 112,08 atau naik 0,48% dibanding NTUP bulan sebelumnya, yaitu 111,55. Hal ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik sebesar 0,75%, lebih besar dari kenaikan indeks kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,27%.

Kenaikan NTUP disebabkan oleh kenaikan NTUP tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perikanan. Sedangkan NTUP yang mengalami penurunan ialah tanaman perkebunan rakyat.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha