Kenaikan Harga Makanan Tinggi, Pemerintah Tahan Inflasi Inti

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

Senin 3/9/2018, 20.32 WIB

Untuk menjaga harga pangan tetap stabil, terutama beras pemerintah berencana melakukan operasi pasar besar-besaran.

Pasar Induk Beras Cipinang
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Sejumlah calon pembeli memilih beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Senin (7/8).

Pemerintah berupaya meredam inflasi dengan menjaga inflasi inti (core inflation) dan inflasi harga yang diatur pemerintah (administrated price). Strategi ini bisa berjalan asalkan gejolak harga  tidak di atas 5 %.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi harga bergejolak terutama makanan atau volatile food per Agustus 2018 secara tahunan (year on year) tercatat 4,97 %. Namun, secara bulanan atau khusus pada Agustus lalu dibanding bulan sebelumnya justru deflasi 1,24 %.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan akan menahan inflasi harga yang diatur pemerintah dan inflasi inti. “Asalkan administered price tidak naik dan core inflation masih di bawah 0,3 % setiap bulan, hasilnya (inflasi tahunan) akan 3,5 %,” kata Darmin di Jakarta, Senin (9/3).

(Baca : Jaga Inflasi, Pemerintah Diminta Cermati Harga Beras)

BPS juga mencatat pada komponen inti, inflasi tahunan sebesar 2,90 % sedangkan khusus pada Agustus saja inflasi 0,30 %. Adapun komponen  harga yang diatur pemerintah (administered price) secara year on year mencatat inflasi 2,55% dan pada Agustus 2018,  tercatat deflasi 0,06%.

Darmin menuturkan untuk menjaga harga pangan, terutama beras agar tetap stabil pemerintah berencana melakukan operasi pasar besar-besaran. Pihaknya secara berkala akan mencermati data Food Station atau Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC). Menurutnya, harga beras  di kedua lokasi sudah mulai bergerak naik pada Agustus lalu.

Kenaikan harga beras di PIBC juga akan berpengaruh pada harga beras di tingkat konsumen. “Kami berupaya supaya harga beras tidak naik, karena susah untuk menurunkannya kembali kalau sudah tinggi,” ujar Darmin.

Selain beras, inflasi bergejolak (volatile) umumnya juga terpengaruh oleh harga pada ongkos transportasi. Namun, untuk transportasi menurutnya, mulai ada penurunan  terutama setelah melewati masa Lebaran. (Baca juga: Harga Bahan Makanan Turun, BPS Catat Deflasi 0,05% pada Agustus)

Kepala BPS Suhariyanto menuturkan, pemerintah mesti mewaspadai fluktuasi harga pangan, terutama beras  yang rentan mempengaruhi inflasi tahunan pada volatile food. "Beras memang harus perlu perhatian khusus karena memasuki Oktober dan November musim tanam. Kalau belajar dari tahun lalu itu jadi faktor penentu inflasi," kata Suhariyanto, pagi tadi.

Secara umum, pada Agustus 2018 BPS mencatat  terjadi deflasi 0,05% secara bulanan. Tetapi secara tahunan berjalan dan secara tahunan inflasi berada di angka 3,20% dan 2,13%. 

 

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha