Arcandra Buka-bukaan Defisit Migas yang Disebut Biang Rupiah Melemah

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

Rabu 5/9/2018, 13.01 WIB

Menurut Arcandra, defisit neraca migas selama triwulan II masih bisa ditutupi penerimaan negara dari sektor yang sama.

IPA 2017
Arief Kamaludin|Katadata
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar memberikan tinjauan persoalan migas di stand pamer Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu, (17/5).

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mulai buka suara mengenai defisit neraca perdagangan minyak dan gas bumi (migas). Selama ini, sektor migas dinilai beberapa kalangan sebagai penyebab melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat karena membuat neraca perdagangan defisit.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, selama triwulan II neraca perdagangan migas defisit US$ 3,32 miliar. Perinciannya, yakni impor US$ 6,29 miliar dan ekspor hanya US$ 2,97 miliar.

Namun, defisit itu bisa tertutupi dari penerimaan negara sektor migas yang mencapai US$ 3,57 miliar. Penerimaan itu berasal dari produksi siap jual (lifting) minyak sebesar US$ 0,82 miliar dan gas bumi US$ 2,76 miliar.

Adapun surplus antara neraca perdagangan dan penerimaan migas triwulan II tahun 2017 hanya US$ 0,17 miliar. “Angkanya hampir sama 2017-2018. Bahkan 2018 ini lebih baik sedikit dari sisi uangnya. Apakah ini memberikan kontribusi terhadap penekanan terhadap neraca dagang? Ini angka yang kami bisa katakan, silakan analisis dan baca sendiri,” ujar Arcandra, Rabu (5/9).

Jika melihat data triwulan I-2018, memang masih ada surplus antara penerimaan negara dan neraca migas. Namun, jika surplus tersebut dihitung selama semester I-2018, artinya triwulan I juga diikutkan, neraca itu defisit US$ 0,28 miliar. Ini karena selisih penerimaan negara dan neraca dagang migas triwulan I-2018, defisit US$ 0,53 miliar.

(Baca: Istana Minta Masyarakat Tak Panik dengan Pelemahan Rupiah)

Juli lalu, Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono menduga terpukulnya rupiah bukan hanya karena faktor eksternal, seperti kekhawatiran terkait memanasnya perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. "Karena pelemahan rupiah termasuk yang paling besar di antara negara-negara emerging markets, maka patut diduga ada faktor internal kita," kata Tony, pekan lalu.

Faktor internal yang dimaksud yaitu terkait kinerja neraca perdagangan yang masih defisit. Pada Mei lalu, defisit neraca dagang  mencapai US$ 1,52 miliar. Dengan demikian, secara kumulatif, defisit neraca perdagangan sepanjang lima bulan pertama tahun ini telah mencapai US$ 2,83 miliar.

Defisit itu semakin membengkak di bulan Juli. Meski angka sementara, Badan Pusat Statistik mencatat defisit neraca perdagangan periode tersebut US$ 2,03 miliar. Defisit itu disumbang dari sektor migas US$ 1,19 miliar Jadi, Januari hingga Juli, defisit mencapai US$ 3,09 miliar.

Adapun nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS semakin mendekati level Rp 15.000 per US$. Mengutip Reuters pagi ini, kurs sudah di level Rp 14.925 per US$.  

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha