Astra dan Welab Siapkan US$ 21 Juta untuk Bisnis Fintech Lending

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

Rabu 5/9/2018, 17.15 WIB

Porsi Astra dalam perusahaan patungan ini sebesar 60%.

Astra
Arief Kamaludin | Katadata
Astra

PT Astra International Tbk (ASII) melalui anak usahanya PT Sedaya Multi Investama (SMI) bekerja sama dengan perusahaan teknologi asal Hong Kong, WeLab terjun ke bisnis financial technology (fintech) pinjam-meminjam. Perusahaan patungan ini dinamakan PT Astra WeLab Digital Artha (AWDA).

Direktur Astra Suparno Djasmin menyampaikan, Astra siap menggelontorkan US$ 21 juta atau sekitar Rp 315,5 miliar secara bertahap untuk AWDA. "Porsi kami 60%, sisanya dari WeLab," kata dia saat peluncuran di Hotel Westin, Jakarta, Rabu (5/9). Fintech lending ini pun sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 30 Agustus lalu.

Ia menjelaskan, pendirian fintech ini bertujuan untuk menyediakan produk dan solusi finansial melalui pengembangan teknologi big data. Untuk itu, Astra menggandeng WeLab yang sudah berkembang di Hong Kong dan Tiongkok.

"Kami berharap bisa memperluas portfolio digital kami untuk mendorong inklusi keuangan di Indonesia," katanya.

CEO WeLab Simon Loong menambahkan, perusahaannya memiliki mesin pembelajar (machine learning) untuk mendukung operasional fintech lending ini. Untuk itu, AWDA akan menggubakan teknologi kredit prioprietary dan fintech know-how yang dimiliki WeLab.

"Ekspansi ini menunjukan bahwa kami punya skalabilitas  bisnis model dan manajemen risiko berteknologi big data," ujarnya.

Ia optimistis, teknologinya yang dikombinasikan dengan pengalaman operasional Astra bisa menyajikan produk pinjaman yang inovatif, tetapi juga aman. "Kami senang bisa membuka pasar di Indonesia," kata dia.

(Baca : Astra Umumkan Investasi US$ 150 Juta untuk Go-Jek)

Sementara itu, Presiden Direktur AWDA Rina Apriana menyampaikan, perusahaannya menawarkan produk pinjaman yang bisa diakses lewat aplikasi mobile bernama Maucash, kepada konsumen retail dan korporasi. Ada dua produk yang diluncurkan yakni pinjaman darurat senilai Rp 1-Rp 3,5 juta untuk tenor 10 hari hingga sebulan, serta pinjaman Rp 2-Rp 8 juta yang diangsur selama dua hingga delapan bulan.

Dengan demikian, ia menjelaskan bahwa AWDA fokus menyasar target milenial yang jumlahnya besar dan sudah lebih akrab dengan teknologi. "Dengan kekuatan teknologi san pengalaman dari sisi lokal dan jaringan yang kuat, kami harap bisa menjadi fintech nomor satu di Indonesia," katanya.

Sementara itu, Direktur Pengaturan, Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK Hendrikus Passagi berharap, Astra dan WeLab menbangun ekosistem supaya bisnis fintech lending bisa berjalan secara aman dan sehat. Misalnya, perusahaan menggandeng asuransi guna berjaga-jaga bila peminjam meninggal dunia sehingga kesulitan membayar pinjaman atau berkolaborasi dengan lembaga pemeringkat kredit.

Bila ekosistem itu dibentuk, ia yakin fintech lending bisa mengatasi empat persoalan pembiayaan di dalam negeri. Kelima persoalan itu di antaranya kebutuhan pendanaan senilai Rp 1.000 triliun per tahun yang tidak bisa dipenuhi industri perbankan; 60% pendanaan yang masih terpusat di Pulau Jawa; pemberian pinjaman yang membutuhkan waktu lama; serta, membantu permodalan dan pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

"Kami harap AWDA ketika menjalankan bisnis fintech lending jangan hanya fokus ke pinjam meminjam, tapi juga ekosistem yang bisa menjawab tiga pertanyaan itu," ujar Hendrikus.

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha