Benarkah UKM Kebal Pelemahan Rupiah?

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

Rabu 5/9/2018, 10.11 WIB

Industri kecil dan menengah hanya sedikit menggunakan bahan baku impor.

Pameran UKM Ekspor
Katadata | Arief Kamaludin

Pekan ini, nilai tukar rupiah nyaris menyentuh Rp 14.900 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini akan berpengaruh besar terhadap industri yang banyak menggunakan bahan baku impor. Lalu, bagaimana dengan Usaha Kecil dan Menengah (UKM)?

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menyatakan, dampak pelemahan rupiah tidak akan terlalu dirasakan oleh UKM.

“Rata-rata hanya 30% (bahan baku impor) dari produk jadi. Industri kecil dan menengah mengimpor lebih sedikit dibanding industri besar,” kata dia di Jakarta, Selasa (4/9).

Ia mencatat, hanya 4 ribu UKM yang mengimpor bahan baku. Padahal, data Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan, total UKM di Indonesia mencapai 800 ribu. Sedangkan yang mikro, sebanyak 62,1 juta usaha.

Selain itu, UKM juga terbantu oleh fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan. Alhasil, UKM tidak perlu membayar bea masuk atas bahan baku yang diimpor, sehingga beban yang ditanggungnya lebih kecil dibanding industri besar.

(Baca juga: Istana Minta Masyarakat Tak Panik dengan Pelemahan Rupiah)

Hanya, ia juga mengakui bahwa kebijakan pembatasan impor 500 komoditas bisa memengaruhi kinerja UKM. Sebab, ada beberapa bahan baku yang tidak ada substitusinya di dalam negeri.

Untuk itu, ia berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk menyeleksi komoditas yang bakal dibatasi impornya. “Pemerintah bekerja sama. Koordinasi selalu, jangan sampai bahan baku yang dibutuhkan tidak bisa diperoleh di dalam negeri,” kata dia.

Untuk meminimalisir dampak pembatasan impor terhadap UKM, Kementerian Perindustrian juga menyediakan sistem Enterprise Resource Planning (ERP)Dengan sistem tersebut, UKM bisa memesan bahan baku ataupun mesin impor sesuai kebutuhan atau tidak berlebihan.

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha