Pasokan Berlebih, Harga Minyak ICP Agustus Turun ke Bawah US$ 70

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

Rabu 5/9/2018, 19.11 WIB

Harga rata-rata minyak mentah Indonesia berdasarkan perhitungan Formula Indonesian Crude Price (ICP) bulan Agustus 2018 mencapai US$ 69,36 per barel.

Sumur Minyak
Chevron

Harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) periode Agustus 2018 turun 1,8%. Salah satu penyebabnya adalah peningkatan suplai minyak mentah dari negara-negara non OPEC.

Harga rata-rata minyak mentah Indonesia berdasarkan perhitungan Formula Indonesian Crude Price (ICP) bulan Agustus 2018 mencapai US$ 69,36 per barel. Padahal, bulan Juli 2018 bisa mencapaiUS$ 70,68 per barel.

Harga minyak Indonesia jenis Sumatra Light juga turun ke level US$ 70,02 per barel. Periode sebelumnya bisa menyentuh US$ 72,05 per barel.

Penurunan ini seiring dengan harga minyak di pasar internasional. Minyak Dated Brent turun sebesar US$ 1,73/ per barel menjadi US$ 72,62 per barel. West Texas Intermediate (Nymex) turun sebesar US$ 2,73 per barel menjadi US$ 67,85 per barel.

Harga minyak dari Basket OPEC juga dari US$ 73,27 per barel menjadi US$ 72,10 per barel. Kemudian jenis Brent (ICE) turun menjadi US$ 73,84 per barel dari sebelumnya US$ 74,95 per barel.

Penurunan harga minyak mentah utama di pasar Internasional mengalami penurunan yang diakibatkan oleh beberapa faktor yakni  peningkatan suplai minyak mentah dari negara-negara Non OPEC. Berdasarkan publikasi International Energy Agency (IEA) bulan Agustus 2018,  proyeksi suplai minyak mentah dari negara negara Non OPEC meningkat sebesar 2 juta barel per hari di tahun 2018 menjadi sebesar 59.9 juta barel per hari.

Publikasi OPEC bulan Agustus 2018 juga memprediksi hal yang sama. Peningkatan suplai minyak mentah dari negara negara Non OPEC disebabkan oleh peningkatan suplai minyak mentah di Amerika Serikat (AS). Suplai minyak mentah AS (shale oil) ini naik  karena kenaikan harga minyak di bulan sebelumnya.

Selain itu, terdapat peningkatan produksi minyak mentah Brazil dari 11 proyek baru di daerah Santos Basin yang diprediksi menyimpan cadangan minyak yang besar. Peningkatan produksi juga terjadi di Kanada  Rusia, Meksiko dan Norwegia.

“Faktor lainnya adalah peningkatan suplai minyak mentah dari negara negara OPEC. Berdasarkan Publikasi OPEC bulan Agustus 2018, sebesar 41 ribu barel per hari menjadi 32,323 juta barel per hari, yang berasal dari beberapa negara antara lain Kuwait, Nigeria, UEA dan Irak,” demikian laporan Tim Harga Minyak Indonesia dikutip Rabu (5/9).

Penyebab lainnya adalah peningkatan stok produk Amerika Serikat (AS) pada bulan Agustus 2018. Berdasarkan laporan Energy Information Administration (EIA), bahan bakar naik sebesar 1,8 juta barel menjadi 232,8 juta barel. Sedangkan bahan bakar sejenis Solar (Distillate Fuel Oil) AS naik sebesar 5,8 juta barel menjadi 130 juta barel.

Kondisi ketegangan geopolitik dan krisis ekonomi juga mempengaruhi harga. Beberapa di antaranya adalah rencana penerapan sanksi untuk Iran oleh AS. AS menghimbau beberapa negara antara lain India, Tiongkok dan Jepang, untuk berhenti melakukan impor minyak mentah dari Iran. Hal ini menyebabkan ketidakstabilan supply-demand minyak mentah Iran, dan membuat beberapa negara OPEC meningkatkan produksinya untuk menjaga kestabilan pasokan minyak mentah.

Kondisi lainnya adalah terganggunya perekonomian Turki. Ini diindikasikan dapat mempengaruhi negara-negara Eropa dan negara-negara berkembang lainnya.

Hal lainnya yang bisa meningkatkan harga adalah penerapan kebijakan efisiensi penggunaan bahan bakar (fuel efficiency) di beberapa negara antara lain Tiongkok, India dan Brazil. Mereka juga melakukan substitusi bahan bakar minyak dengan komoditas energi lainnya seperti listrik, gas dan biofuel. 

Tak hanya itu, menguatnya nilai mata uang Dollar AS juga menjadi sebab kenaikan harga minyak mentah internasional. Ini karena mendorong penurunan daya beli minyak mentah,

(Baca: 5 Faktor yang Mempengaruhi Harga Minyak Dunia)

Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, masih berlanjutnya perang dagang antara AS dan Tiongkok yang dapat berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi dan perdagangan dunia, sehingga mengakibatkan penurunan permintaan minyak mentah. Kedua, penurunan permintaan minyak mentah Jepang pada sektor transportasi dan industri, serta untuk pembangkit listrik, akibat penggunaan gas sebagai energi alternatif.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha