Asian Games 2018, Perkarantinaan Naik ke Level Dunia

Tim Publikasi Katadata

Kamis 6/9/2018, 11.18 WIB

Sebanyak 17 ekor kuda terakhir dari 133 ekor kuda peserta cabang equestrian Asian Games 2018, asal 22 negara telah kembali ke Liege, Belgia

Equistrian
Katadata

Jakarta  - Sebanyak 17 ekor kuda terakhir dari 133 ekor kuda peserta cabang equestrian Asian Games 2018, asal 22 negara telah kembali ke Liege, Belgia, pada Minggu (2/9). Badan Karantina Pertanian (Barantan), Kementerian Pertanian (Kementan) menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada Organisasi Kesehatan Dunia (OIE) yang telah  memberikan bantuan teknis dalam tindakan perkarantinaan kuda selama Perhelatan olahraga. "Perlakuan tindakan karantina terhadap kuda yang sesuai dengan standar dunia sangat penting bagi sukses terselenggaranya Asian Games 2018 khususnya pada cabang olahraga berkuda,” kata Kepala Barantan, Kementerian Pertanian Banun Harpini mengatakan saat bertemu dengan konsultan OIE, Susanne Munstermann, DVM di ruang kerjanya, Jumat (31/8). Menurutnya, Asian Games memberikan momentum untuk meningkatkan kapasitas layanan perkarantinaan ke level yang lebih tinggi.

 

Banun menjelaskan pendampingan OIE dilakukan pada proses notifikasi Health Certificate, Return Health Certificate, dan protokol karantina ke 22 negara peserta cabang olahraga berkuda yang telah dilakukan jauh hari sebelum pelaksanaan event. Menurutnya, persiapan Kementan melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), dan Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) sudah dilakukan sejak dua tahun lalu, mulai dari surveilans (pemantauan) penyakit kuda sesuai standar area bebas penyakit kuda (EDFZ) hingga sertifikasi. 

 

Kementan bersama Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian juga menyiapkan venue Jakarta Equestrian Park (JEP) Pulomas dengan mengatur manajemen dan pergerakan kuda yang keluar masuk wilayah DKI Jakarta, dengan pemberian identifikasi untuk setiap kuda yg ada di wilayah ini. Termasuk upaya relokasi kawasan kuda delman yang tidak layak, serta kuda yang menunjukkan seropositive suatu penyakit.  “Badan Karantina Pertanian menyiapkan persyaratan karantina hewan khusus untuk importasi temporer (sementara) kuda untuk perlombaan,” tambahnya. 

 

Langkah lainnya adalah pelarangan pemasukan kuda dari luar Pulau Jawa ke wilayah Jabodetabek, serta memperketat tindakan karantina pada importasi kuda dari negara dengan standar sudah setara dengan equine disease free zone EDFZ. Untuk importasi kuda dari negara dengan standar kesehatan di bawah EDFZ, dilakukan kebijakan pelarangan.

Pemantauan penyakit kuda di lokasi Instalasi Karantina Hewan dilakukan sebelum Stable Artyatasa di desa Limo Depok ditetapkan sebagai Instalasi Kesehatan Hewan (IKH) oleh Kementan. Berbagai proses untuk menyelaraskan standard aturan, fasilitas, sumber daya manusia dan tindakan perkarantinaan dengan lembaga kesehatan hewan dunia terus berlanjut hingga jelang pelaksanaan AG 2018.

 

Susanne Munstermann dari  Jerman yang ditunjuk khusus oleh OIE untuk mengawal kesehatan kuda peserta cabang olahraga ketangkasan berkuda, equestrian di Asian Games menyebutkan Indonesia patut berbangga telah sukses menyelenggarakannya. Terutama equestrian yang membawa hewan hidup kuda sebagai sarana kompetisi olahraga tersebut. “Indonesia telah sukses menyelenggarakan Asian Games, pesta olahraga terbesar kedua setelah Olympiade,” ujar Susanne. Menurutnya, negosiasi dengan negara peserta dapat dilakukan dengan baik, terutama dengan negara dengan aturan tertutup.” Saya merasa ada banyak visi ke depan, saya sangat senang jika ke depan dapat bergabung dan berbagi pengetahuan dalam tindakan karantina khusus,” tambahnya.

 

Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta dan pihak swasta telah mengeluarkan banyak biaya dan energi untuk mencapai pengakuan EDFZ saat AG 2018. Susanne berharap para pihak dapat melanjutkan proses ini agar dapat mempertahankannya dengan berkonsultasi ke Atase Pertanian KBRI di Brussel di Komisi Uni Eropa, Dr. Wahida Maghraby.

 

Merespos hal tersebut, Kepala Barantan, Kementerian Pertanian Banun Harpini menegaskan, Kerjasama dengan laboratorium rujukan OIE untuk penyakit kuda yang telah dijalin selama AG 2018 bakal terus dilanjutkan. Hal ini penting, agar ke depan Indonesia bisa menjadi peserta, penyelenggara, bahkan menjadi pusat kompetisi berkuda berkelas dunia.

Kementrian Pertanian

Kementrian Pertanian

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha