Kuota Solar Subsidi Tahun Depan Turun, Elpiji Naik

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

Kamis 6/9/2018, 18.05 WIB

Pertimbangan menetapkan konsumsi Solar dan elpiji adalah realisasi tahun ini.

solar
Arief Kamaludin | Katadata

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan agar volume Solar subsidi tahun depan dipangkas. Sedangkan untuk kuota elpiji subsidi dinaikkan. Pertimbangannya adalah realisasi selama tahun 2018.  

Selama delapan bulan terakhir, realisasi konsumsi Solar subsidi hanya 9,97 juta Kilo Liter (KL). Ini sudah 63% dari kuota yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Penerimaan Negara (APBN) 2018.

Alhasil Menteri ESDM Ignasius Jonan memprediksi hingga akhir tahun ini penyerapan Solar subsidi hanya 14,5 Juta KL. Padahal, kuota APBN 2018 sebesar 15,62 Juta KL.

Menimbang hal tersebut, pemerintah pun mengusulkan dalam APBN 2019, kuota subsidi Solar dipatok lebih rendah dari tahun ini. Apalagi dengan adanya kebijakan B20 pemerintah memperkirakan penyerapan Solar tidak akan melebihi kuota. "Jadi kami usulkan solar 2019 14,5 juta kilo liter saja utuk subsidi," kata dia dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Jakarta, Kamis (6/9).

Sementara itu untuk tahun depan pemerintah mengusulkan subsidi Solar maksimal Rp 2.000 per liter.
Subsidi ini mempertimbangkan harga minyak Indonesia (ICP) tahun depan yang diusulkan sebesar US$ 70 per barel.

Untuk minyak tanah selama delapan bulan terakhir capaiannya 0,36 juta KL, ini masih di bawah target APBN 2018 sebesar 0,61 juta KL. Sampai akhir tahun minyak tanah diperkirakan serapannya hanya 0,55 juta KL. Pemerintah mengusulkan kuota minyak tanah tahun depan tetap seperti tahun ini yakni 0,61 juta KL.

Adapun kuota elpiji subsidi tiga kilogram (3 kg) tahun depan diusulkan 6,978 juta Metrik Ton (MT). Ini meningkat dibandingkan tahun ini sebesar 6,450 juta MT. Adapun sejak Januari sampai Agustus 2018 realisasi elpiji sudah mencapai 4,334 juta KL. Sementara itu pemerintah memperkirakan sampai akhir tahun ini serapan subsidi elpiji 3 kg mencapai 6,620 juta MT.

Jonan mengatakan peningkatan kuota subsidi elpiji 3 kg tahun depan salah satunya disebabkan oleh ekspansi pengguna minyak tanah ke elpiji, terutama untuk wilayah timur seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ini akan menambah konsumsi.

(Baca: Subsidi Elpiji Tahun Ini Terancam Membengkak)

Adapun usulan asumsi Makro Pemerintah untuk RAPBN 2019 tersebut akan diputuskan oleh Komisi VII DPR setelah melakukan pendalaman. "Keputusannya kita harus sepakati dulu angkanya," kata Ketua Komisi VII DPR Gus Irawan Pasaribu.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha