Sandiaga Uno Sebut Penyebab Devisa Hasil Ekspor Parkir di Luar Negeri

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Yuliawati

Kamis 6/9/2018, 17.09 WIB

Sandiaga mendorong pemerintah memberikan insentif dan menerapkan reformasi ekonomi secara struktural.

Pelabuhan Ekspor
Agung Samosir|KATADATA
Kegiatan pelabuhan ekspor.

Bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno menyoroti soal devisa hasil ekspor (DHE) yang masih terparkir di luar negeri. Dia mengatakan sebagian besar DHE terparkir di luar negeri akibat ketidakpastian usaha di Indonesia.

Sandi mengungkapkan pemerintah hingga saat ini belum bisa memberikan kemudahan dan insentif sehingga DHE masuk ke dalam negeri. "Tidak ada kebijakan yang berpihak kepada dunia usaha," kata Sandiaga di Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (6/9).

Sebaliknya, Sandi menilai pemerintah malah memberikan disinsentif terhadap para pelaku usaha membawa pulang DHE. Salah satunya dengan besarnya pajak penghasilan atas bunga deposito dan tabungan dari DHE.

(Baca: Kumpulkan 40 Konglomerat, Jokowi Minta Devisa Ekspor Dibawa ke RI).

Selain itu, pengusaha khawatir dengan wacana pemberian sanksi penahanan ekspor yang sempat diterapkan pada 2011. Padahal, besarnya pajak tersebut dapat membuat volume DHE yang masuk ke dalam negeri berkurang.

"Karena mereka menunda konversi, itu menambah spekulasi juga," kata Sandiaga.

Sandiaga mendorong pemerintah memberikan insentif dan menerapkan reformasi ekonomi secara struktural untuk memudahkan para pelaku usaha memasukkan DHE ke dalam negeri.

Menurut Sandiaga, kedua hal tersebut ditujukan memberi kepastian usaha bagi para pelaku usaha. Dengan demikian, DHE yang masuk ke dalam negeri bisa diinvestasikan untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

"Harus ada kemudahan-kemudahan dan insentif sehingga uang itu bisa kita investasikan," kata dia.

(Baca juga: Jokowi Minta Bantuan Konglomerat, BI: Total Devisa Ekspor Sudah 90%)

Presiden Joko Widodo sendiri telah mengambil langkah mengumpulkan para konglomerat dan pengusaha besar nasional membawa DHE ke dalam negeri. Tujuannya agar devisa itu dapat membantu penguatan nilai tukar rupiah, memperkecil defisit transaksi berjalan dan menjaga ketahanan ekonomi domestik.

Permintaan tersebut disampaikan Jokowi saat bertemu dengan sekitar 40 konglomerat di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (26/7) malam. Tampak hadir dalam pertemuan selama 2,5 jam itu pemilik Grup Djarum R. Budi Hartono, bos Grup Indofood Anthoni Salim, pemilik Rajawali Group Peter Sondakh, dan bos Wings Group William Katuari.

Lalu ada pula pemilik Medco Group Arifin Panigoro, Chief Executive Officer (CEO) Sritex Iwan Lukminto, Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir, hingga pemilik Panasonic Gobel Indonesia yaitu Rachmat Gobel. Hadir pula Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani dan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Rosan Perkasa Roeslani.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), total devisa hasil ekspor yang masuk ke dalam negeri sudah mencapai 90% dari total ekspor. Bank sentral memperoleh data tersebut setelah mencocokkan antara dokumen pengapalan dan dokumen yang masuk ke bank. 

 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha