Bank Dunia Ungkap Rahasia Turki Kembangkan Panas Bumi

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

Jum'at 7/9/2018, 16.52 WIB

Salah satu upaya yang dilakukan Turki adalah menerapkan skema feed in tarif (subsidi) untuk listrik dari panas bumi.

Bank Dunia
Arief Kamaludin | Katadata

Bank Dunia (World Bank) mengungkapkan rahasia Turki dalam mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Ada beberapa terobosan yang dilakukan Turki agar investasi sektor panas bumi masuk.

Dalam waktu 10 tahun sejak 2007, kapasitas terpasang pembangkit panas bumi sudah mencapai di atas 800 Mega Watt (MW). “Kami lihat Turki bergerak cepat," kata Senior Energy Specialist/ Task Team Leader World Bank, Peter Johansen dalam acara The 6th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition 2018, di Jakarta, Jumat (7/9).

Menurut Peter, setidaknya ada enam faktor utama yang membuat investasi di sektor panas bumi berkembang cepat. Pertama, adanya reformasi hukum yang dilakukan Turki, yakni terkait payung hukum mengenai panas bumi yang dikeluarkan pada tahun 2007.

Kedua, memakai skema harga feed in tariff (subsidi) mulai tahun 2010. Di Indonesia, justru skema ini dihapus.

Ketiga, meningkatkan peran sektor swasta nasional yang kuat sehingga memiliki kemampuan mengerjakan proyek panas bumi. Keempat, kapasitas teknis dan manusia.

Kelima, pembiayaan komersial untuk proyek-proyek energi  terbarukan dengan dukungan International Financial  Institutions (IFIs).Keenam, ketersediaan ladang  panas bumi yang bisa digali secara publik melalui Penelitian Mineral dan Eksplorasi (MTA).

Dengan upaya itu, Peter yakin Turki bisa memenuhi target pembangunan pembangkit panas bumi. Adapun target kapasitas terpasang pembangkit panas bumi sebesar 1.000 MW pada 2023.

Peter pun menyarankan pemerintah Indonesia memiliki terobosan agar pembangkit listrik panas bumi Indonesia bisa terus berkembang cepat. Dengan demikian dapat memenuhi target untuk bauran energi terbarukan tahun 2025 sebesar 23%. "Turki punya target yang bagus, beda sama pemerintah," kata dia.

Di tempat yang sama, Kepala Unit untuk Indonesia di Departemen Operasi Sektor Swasta ADB, Yuichiro Yoi mengatakan pihaknya siap memberi bantuan dana untuk proyek panas bumi di Indonesia.ADB sudah turut ikut membantu Proyek Sarulla, Muar Laboh, dan Rantau Dedap. "Kami berikan dana tersebut karena sektor panas bumi di negara ini sangat penting," kata Yuichiro.

(Baca: Investasi Panas Bumi Berpotensi Meningkat Rp 6,2 Triliun)

Ada tiga risiko dalam mengembangkan panas bumi. Risiko-risiko ini juga menjadi pertimbangan pihaknya dalam memberikan pinjaman kepada pihak investor. Risiko itu yakni sumber daya, pengeboran, dan keberlanjutan sumber daya.

Reporter: Anggita Rezki Amelia

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha