Pertamina Tak Lakukan Pengeboran di Blok SES Tahun Ini

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

Minggu 9/9/2018, 10.00 WIB

Pertamina mulai mengebor sumur Blok SES tahun depan.

Blok Southeast Sumatra (SES)
Pertamina

PT Pertamina (Persero) tidak akan melakukan pengeboran sumur di Blok Southeast Sumatra (SES). Alasannya, masih perlu waktu untuk memetakan titik pengeboran terlebih dahulu di blok yang baru dikelola awal September 2018.

Senior Vice President Upstream Strategic Planning and Operation Evaluation Pertamina Meidawati mengatakan pengeboran akan dilakukan tahun depan setelah kajian selesai. "Kami kan baru memperoleh Blok SES.  Kami akan mencari informasi dulu," ujar dia kepada Katadata.co.id, Kamis (6/9).

Meski tak mengebor, Pertamina berupaya untuk mempertahankan agar produksi blok tersebut tidak turun. Salah satunya dengan mengelola produksi sumur (well intervention).

Blok SES resmi beralih ke Pertamina terhitung sejak pukul 00.00 WIB, Kamis (6/9). Wilayah Kerja ini dioperasikan PHE Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES). Sebelumnya, blok ini dikelola perusahaan asal Tiongkok, CNOOC SES Ltd.

Seremoni alih kelola dilakukan di Pulau Pabelokan, Kab. Kepulauan Seribu yang menjadi salah satu lokasi penting dalam operasi lepas pantai di Wilayah Kerja SES. Seremoni alih kelola ditandai dengan pemakaian atribut Pertamina oleh pekerja. Selain itu ada penyerahan dokumen alih kelola kepada PHE OSES.

Direktur Hulu Pertamina Dharmawan Samsu berharap alih kelola itu bisa mendukung ketahanan energi. “WK SES memiliki nilai strategis dalam industri migas di tanah air dalam mendukung pencapaian target produksi nasional untuk mencapai ketahanan energi nasional,” ujar dia berdasarkan keterangan resminya, dikutip Kamis (6/9).

Hingga Agustus 2018, produksi minyak dan gas bumi WK SES sebesar 31.120 barel per hari (bph). Adapun produksi gasnya mencapai 137,5 juta standard kaki kubik per hari (mmscfd).

Hasil produksi gas lapangan SES digunakan untuk pembangkit listrik milik PLN di Cilegon. Sedangkan produksi minyak dari WK SES sebelum alih kelola diekspor seluruhnya. Namun, setelah alih kelola oleh PHE OSES, seluruh produksi minyak akan diproses sepenuhnya di kilang-kilang Pertamina untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar dalam negeri.

Wilayah Kerja SES merupakan salah satu pionir dalam kontrak bagi hasil (PSC) lepas pantai di Indonesia. Kontrak bagi hasil WK SES ditandatangani pertama kali 6 September 1968. Selama beroperasi, WK SES pernah mengalami masa puncak produksi pada Juli 1991 dengan produksi harian sebesar 244.340 bph.

Pada 20 April 2018, Pertamina mendapatkan penugasan pemerintah untuk mengelola delapan wilayah kerja yang habis masa kontraknya di tahun 2018. Salah satunya WK SES. Pertamina mendapatkan 100% hak kelola di delapan blok tersebut. 

(Baca: Jadi Operator Blok SES, Produksi Minyak Pertamina Tambah 31 Ribu Barel)

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi berharap dengan sistem kontrak kerja sama gross split, PHE OSES dapat berproduksi dengan lebih efektif dan efisien. Adapun komitmen pasti tiga tahun WK SES mencapai US$130 juta, dana ini untuk kegiatan eksploitasi maupun eksplorasi. "Diharapkan dapat menambah cadangan terbukti juga meningkatkan produksi,” ujar dia.

Reporter: Anggita Rezki Amelia

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha