Petani NTB Sukses Genjot Panen di Musim Kering

Tim Publikasi Katadata

Minggu 9/9/2018, 20.27 WIB

Produktivitas padi di Desa Banyu Urip, Kecamatan Praya Barat, Kab. lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) melonjak mencapai 6,5 juta ton per hektar.

Petani desa Banyu Urip
Katadata

Lombok Tengah - Meski sedang dilanda musim kering, petani di Desa Banyu Urip, Kecamatan Praya Barat, Kab. lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) justru sukses meningkatkan hasil panen. Produktivitas padi melonjak mencapai 6,5 juta ton per hektar.

“Di musim kering ini kami memperoleh padi enam ton lebih, padahal biasanya cuma dapat empat sampai lima ton per hektar,” ujar Saham, salah satu petani yang hadir di kegiatan Panen dan Temu Lapang di Desa Banyu Urip pada Kamis (6/9) lalu.

 

Sadam menuturkan  keberhasilan itu didapat melalui penerapan sejumlah teknologi padi yang diperkenalkan Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) berhasil meningkatkan produktivitas. Teknologi tersebut meliputi penggunaan varietas unggul baru Inpari 40, penerapan metode tanam jajar legowo, aplikasi pupuk biosilika, serta sistem pengairan basah kering. 

 

Saham pun optimistis pembinaan yang dilakukan oleh Balitbangtan dapat menjadi modal untuk kemandirian para petani. “Beberapa teknologi seperti jenis padi, metode tanam, dan pupuk biosilika termasuk baru di sini, tapi karena ada pembinaan dari Balitbangtan maka hasilnya pun maksimal,” jelasnya.

 

Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB, Ahmad Suryadi menjelaskan masing-masing teknologi yang diterapkan memang memiliki kelebihan. Misalnya Inpari 40. varietas padi yang telah ditanam di lahan seluas 15 hektar, ini mampu bertahan saat sawah mengalami kekeringan.“Pada saat bunga padi mau keluar, saluran air di sini sempat rusak sehingga sawahnya kering, tapi Inpari 40 ini masih bisa bertahan dibandingkan padi milik petani lain. Bahkan  petani yang di ujung desa sana padinya kering,” kisah Suryadi.

Selain Inpari 40, Suryadi pun menceritakan kelebihan sistem pengairan basah kering atau terbatas. Menurutnya, penerapan metode ini dapat menghemat air sebanyak 30 persen sehingga air hasil penghematan tersebut dapat dialihkan ke lahan kering lainnya.

 

Kepala Balai Besar Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) Balitbangtan, Mastur meyakini paket teknologi  ini dapat dikembangkan di NTB, khususnya Lombok Tengah yang merupakan salah satu daerah kering."Inpari 40 memiliki kelebihan ketahanan terhadap kekeringan dan produktivitas tinggi. Jika disinergikan dengan teknologi lain tentu akan lebih menguntungkan para petani," ujar Mastur saat dimintai keterangan, Minggu (9/9).

 

Pada kegiatan Panen dan Temu Lapang itu, BB Biogen juga sempat memberikan bantuan benih unggul kedelai Biosoy. Ini merupakan varietas kedelai unggul baru Balitbangtan yang memiliki kelebihan biji besar dan produktivitas tinggi. Mastur mengharapkan benih sumber tersebut dapat ditangkar dan dapat dikembangkan di NTB, khususnya Lombok Tengah. 

 

Kegiatan Panen dan Temu Lapang dengan tema “Kaji Terap Teknologi Budidaya Padi di Lahan Kering” digelar oleh Balitbangtan. Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintahan desa, serta para petani Desa Banyu Urip.

Kementrian Pertanian

Kementrian Pertanian

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha