Susi Minta Eksportir Ikan Bisa Curi Kesempatan dari Perang Dagang

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

Jum'at 21/9/2018, 18.00 WIB

Ikan dan udang merupakan salah satu produk perikanan yang diimpor AS dari Indonesia dengan nilai US$ 1,27 juta.

Tuna Sirip Kuning
Antara
Nelayan memindahkan tuna sirip kuning di Pelabuhan Krueng Aceh, Banda Aceh, beberapa waktu lalu.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meminta para pelaku usaha di sektor perikanan bisa memanfaatkan momentum dan mengambil kesempatan dalam perang dagang yang tengah memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Sebab, produk produk perikanan Indonesia bisa dikenakan tarif yang lebih rendah, dibanding produk Tiongkok yang akan dikenai tarif lebih tinggi untuk masuk ke pasar AS. 

Susi berharap  pengusaha harus bisa mendorong produksi dalam negeri dan menggenjot ekspor. "Mari kita pakai kesempatan ini untuk meningkatkan kinerja kita," kata dia di Jakarta, Jumat (21/9).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Berdasarkan data United Nations Comtrade, ikan dan udang merupakan salah satu produk perikanan yang diimpor AS dari Indonesia dengan nilai US 1,27 juta. Porsinya masih sebesar 7,1% dari impor AS dari dunia yang nilainya bisa mencapai US$ 17,90 juta.

(Baca : Ekspor Perikanan Meningkat, Menteri Susi Sebut Karena Kebijakan KKP)

Salah satu komoditas Indonesia yang bisa merebut pasar AS adalah kepiting. Meski saat ini ekspor kepiting dari Indonesia telah menguasai 42,4% pangsa pasar AS, namun eksportir kepiting juga berpeluang  merebut pasar Tiongkok yang sebelumnya menguasai 12,3% pangsa pasar di AS.

Susi meceritakan, pada awal tahun 2000-an,  ketika itu  AS meningkatkan tarif produk perikanan Tiongkok dalam kisaran 60% sampai 100%. Sementara, produk Indonesia kala itu hanya dikenakan tarif 12% hingga 20%.

Namun sangat disayangkan, pengusaha malah mengambil proses cepat dengan membiarkan pengusaha Tiongkok meminjam nama Indonesia untuk ekspor produk perikanan ke AS. "Pengusaha waktu itu justru melakukan trans shipment dengan mengganti nama dan dokumen," ujar Susi.

Bahkan, proses perdagangan secara ilegal itu membuat produk ikan kakap merah Indonesia sempat diembargo AS. Negeri Paman Sam juga mengancam untuk mengembargo udang karena trans shipment.

(Baca : KKP Sebut Produksi Perikanan Cukup untuk Penuhi Kenaikan Konsumsi 11%)

Oleh karena itu, Susi meminta supaya pelaku usaha untuk memanfaatkan kesempatan perang dagang kali ini, bukannya malah pesimis dengan situasi perdagangan global. "Jangan sampai kita yang hanya menjadi perantara," katanya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor perikanan semester I 2018 sebanyak 510,05 ribu ton, naik 7,21% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar  475,74 ribu ton. Nilai ekspor perikanan juga meningkat 12,88% menjadi US$ 2,27 juta pada semester I 2018 dari US$ 2,01 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Adapun pada 2017, produksi perikanan tangkap mencapai 6,8 juta ton. Sedangkan produksi perikanan budidaya sebesar 16,1 juta ton dengan rincian 5,65 juta ton ikan dan 10,45 juta ton rumput laut.

Reporter: Michael Reily