Kementan Pantau Laporan Dampak Gempa Sulteng Terhadap Produksi Tanaman

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

Senin 1/10/2018, 20.19 WIB

Kementan masih kesulitan berkomunikasi untuk memperbaharui informasi terkait wilayah mana saja yang terdampak besar akibat gempa di Sulawesi Tengah.

Gempa Palu
Biro Pers Istana

Gempa bumi serta tsunami yang melanda sebagian wilayah Sulawesi Tengah diperkirakan turut berdampak ke sentra produksi tanaman pangan di kawasan tersebut. 

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Gatot Irianto mengatakan, hingga saat ini  pihaknya masih menunggu laporan dampak gempa terhadap tanaman pangan di Sulawesi Tengah.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Menurutnya, Kementan masih kesulitan berkomunikasi untuk  memperbaharui informasi terkait wilayah mana saja yang terdampak besar akibat kejadian tersebut.

"Baru dua sentra produksi tanaman pangan yang baru bisa dihubungi, yakni lokasi sentra beras di Parugi Moutong dan Sigi, yang lain masih menunggu Dinas Pertanian setempat,” kata Gatot di Jakarta, Senin (1/10).

(Baca : Menteri Luhut: Tsunami Palu Tak Perlu Status Bencana Nasional)

Hal senada juga dituturkan Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar Kementerian Pertanian Irmijati Rachmi. Dia menyebut Kementerian Pertanian belum bisa memberi data terkait jenis tanaman perkebunan yang berpotensi terganggu karena pihaknya hingga kini masih sulit berkomunikasi dengan dinas provisi dan kabupaten setempat. 

"Saat ini komoditas unggulan wilayah tersebut di antaranya kakao dan kelapa," ujarnya kepada Katadata

Tak Terganggu

Meski begitu, bencana gempa dan tsunami diyakini tak mengangu produksi komoditas perkebunan secara signifikan, seperti jagung . Namun, tak menutup kemungkinan juga produksi padi dan jagung  bisa tak mencapai target.

Pada kuartal keempat 2018, produksi padi di Sulawesi Tengah diperkirakan bisa mencapai sebesar 333 ribu ton dan jagung 113 ribu ton.

Menurutnya, untuk mengetahui perubahan produksi dan luas tanam pihaknya  harus menunggu laporan dengan data dari daerah. Sedangkan jika mengacu pada catatan Kementerian Pertanian, luas tanam padi pada September 2018 meningkat 17,75% dibandingkan September 2017, dari 12.633 hektare menjadi 14.875 hektare.

(Baca: Uni Eropa Beri Bantuan Rp 25,9 Miliar untuk Korban Gempa Sulteng).

Gatot menuturkan, luas tanam padi periode September 2018 mencatat peningkatan 1,5 juta hektare dibanding September tahun lalu yang hanya naik sekitar 1,1 juta hektare. Menurutnya, terobosan Kementerian Pertanian telah menyebabkan peningkatan produksi tanaman pangan.

Selain itu, dia juga menuturkan fenomena el nino lemah pada akhir 2018  bisa menjadi peluang peningkatan tanaman pangan dengan pemanfaatan lahan rawa yang mengering. “Tanah sudah lembab sehingga bisa jadi titik tanam yang baru,” ujar Gatot.

Sebelumnya, gempa 7,4 skala richter mengguncang Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, pekan lalu.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban meninggal akibat gempa bumi dan tsunami yang melanda Palu, Donggala daerah lainnya di Provinsi Sulawesi Tengah telah mencapai 832 orang hingga Minggu (30/9).

Sementara Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) mencatat, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami yang melanda Donggala-Palu, Sulawesi Tengah hingga saat ini mencapai 1.203 jiwa.

ACT juga mencatat korban luka berat sebanyak 540 orang yang tersebar di beberapa lokasi rumah sakit. Sementara untuk jumlah pengungsi di Kota Palu berdasarkan pantauan hingga Minggu (30/9) pukul 20.00 WIB diperkirakan sebanyak 16.732 jiwa yang tersebar di 123 lokasi pengungsian dengan wilayah terdampak gempa yakni antara lain Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong.

Reporter: Michael Reily