Cara The Fed Minimalisasi Dampak Negatif Kenaikan Suku Bunganya

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

Rabu 10/10/2018, 12.05 WIB

The Fed akan terus menaikkan suku bunga. Seiring perbaikan ekonomi di Amerika Serikat.

Press Briefing Gub BI
Arief Kamaludin | KATADATA

Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) mengindikasikan rencana untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya alias Fed Fund Rate (FFR), sejalan dengan perbaikan ekonomi AS. Kendati, The Fed berkomitmen untuk meminimalisir dampak kebijakannya terhadap ekonomi dunia.

Presiden Federal Reserve New York John Williams menyadari bahwa ekonomi dan sistem keuangan setiap negara saling terhubung. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa instansinya memantau dan menganalisa perkembangan ekonomi di dunia.

"Ini untuk memahami bagaimana tindakan kami mempengaruhi perekonomian global. Sementara, kami mencoba kembali ke kondisi normal," ujarnya di Hotel Conrad, Bali, Rabu (10/10).

Berdasarkan analisis data yang dilakukan, The Fed memandang perlu ada komunikasi yang jelas dan berkelanjutan terkait kebijakannya. Salah satu caranya, aktif menghadiri forum internasional seperti Sidang Tahunan Dana Moneter Internasional atau IMF-Bank Dunia ini.

"Ini membantu kami memahami ekonomi dan kondisi keuangan dunia, serta memberikan kesempatan untuk berbagi perspektif dan wawasan," kata dia.

(Baca juga: Ketika Tim Kampanye Jokowi dan SBY Bicara Pertemuan IMF-Bank Dunia)

Dengan membuka jalur komunikasi ini, ia berharap kesalahpahaman, gangguan pasar, dan volatilitas bisa diminimalisasi. Menurutnya, komunikasi yang efektif akan memberikan kejelasan terkait prediksi perekonomian AS oleh The Fed sebagai dasar dalam mengambil kebijakan. "Kami akan selalu mengacu pada data," kata dia.

Secara umum, ia menjelaskan bahwa perekonomian AS membaik. Angka pengangguran di AS menurun menjadi 3,7% pada periode September 2018. Angka ini merupakan yang terendah selama 49 tahun terakhir.

Ia berharap, tingkat pengangguran turun menjadi 3,5% hingga akhir tahun. Produk Domestik Bruto (PDB) riil atau atas dasar harga konstan diperkirakan naik 3% pada 2018 dan 2,5% pada 2019.

Menurutnya, data-data tersebut menunjukkan perekonomian AS yang kuat dan solid. Alhasil, inflasi diperkirakan naik menjadi 2% tahun ini. Sebagaimana diketahui, salah satu pendorong inflasi atau kenaikan harga produk adalah tingginya permintaan. Sejalan dengan kondisi ini, langkah The Fed untuk menaikkan suku bunga masih akan berlanjut. 

Adapun The Fed sudah menaikan FFR sebanyak tujuh kali, masing-masing sebesar 0,25% sejak Desember 2015 lalu. "Yang terbaru, kami perkirakan The Fed akan menaikan lagi FFR pada akhir September, sehingga bisa mendekati target 2-2,25%," kata dia.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha