Konferensi Laut Dunia di Bali Catat Komitmen Senilai US$ 10 Miliar

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

Rabu 31/10/2018, 12.23 WIB

Selain masalah sampah, aktivitas penangkapan ikan ilegal juga menjadi ancaman nyata untuk kelestarian laut.

 Masyarakat Nelayan Pesisir
ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
Nelayan menjala ikan menjelang matahari terbenam di pesisir Laut Ulee Lheu, Banda Aceh, Aceh, Selasa (14/3). Mayoritas masyarakat pesisir yang berprofesi sebagai nelayan masih mengandalkan alat tangkap tradisional untuk mencari ikan guna meningkatkan kesejahteraan dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Perhelatan Our Ocean Conference (OOC) 2018 di Bali, Indonesia, berhasil mengumpulkan 287 komitmen  senilai US$ 10 miliar. Konferensi juga menghasilkan penciptaan 14 juta kilometer persegi Kawasan Konservasi Laut.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan capaian hasil konferensi melebihi target pemerintah saat ubu. “Kami berterima kasih atas kontribusi kolektif dalam menentukan masa depan laut dan isinya agar lebih lestari dan berkelanjutan,” kata Susi dalam keterangan resmi dari Bali, Rabu (31/10).

(Baca: KKP: 1.636 Kapal Langgar Wilayah Tangkap Ikan)

Susi menjelaskan kelestarian laut saat ini sangat mengkhawatirkan karena banyak sampah plastik yang mencemari laut. Sebab, sampah plastik akan terurai menjadi mikroplastik akan membahayakan seluruh organisme di laut. Ikan yang tercemar mikroplastik juga dikhawatirkan akan ikut dikonsumsi manusia.

Selain masalah sampah, aktivitas penangkapan ikan ilegal juga menjadi ancaman nyata untuk kelestarian laut. “Sebanyak 93% ikan dieksploitasi berlebihan oleh alat tangkap yang tidak ramah lingkungan secara ilegal,” ujar Susi.

Karenanya, dia menekankan Indonesia terus memerangi penangkapan ikan ilegal. Indonesia sudah melakukan penenggelaman 488 kapal yang terbukti melakukan penangkapan ikan ilegal.  (Baca : KKP Sebut Produksi Perikanan Cukup untuk Penuhi Kenaikan Konsumsi 11%)

Kementerian Kelautan dan Pemerintah juga melakukan moratorium untuk kapal asing beroperasi dalam sektor perikanan tangkap di wilayah Indonesia serta larangan penggunaan  alat tangkap cantrang.

“Indonesia belajar, tanpa adanya kerja sama dengan negara tetangga, apa yang kita lakukan tidak cukup," katanya lagi.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha