Hingga Oktober, Cost Recovery Migas Sudah 97% dari Target APBN

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

Kamis 8/11/2018, 20.40 WIB

Menurut Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi, cost recovery tak memiliki hubungan dengan produksi.

Sumur Minyak
Chevron

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat capaian biaya penggantian biaya operasional (cost recovery) selama 10 bulan terakhir sudah 97% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018. Kondisi ini dipengaruhi lapangan yang sudah tua.

Mengacu data SKK Migas, Januari sampai Oktober 2018, capaian cost recovery sudah US$ 9,7 miliar atau setara Rp 141 triliun. Sementara target cost recovery di APBN tahun ini sebesar US$ 10,1 miliar. Adapun, proyeksi sampai akhir tahun ini cost recovery akan melewati target yakni US$ 11,7 miliar.

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengatakan cost recovery tinggi karena banyak lapangan tua yang membutuhkan upaya untuk menjaga produksi. Jadi, biaya pemeliharaan (maintanance) untuk operasional produksi tinggi.

Di sisi lain, menurut Amien, cost recovery yang tinggi tak ada kaitannya dengan penurunan produksi siap jual (lifting) yang terjadi saat ini. Sebagai contoh, tren lifting migas dan cost recovery Blok NSO sejak tahun 1999 hingga 2034.

Tahun 1994, lifting migas NSO mencapai 30 juta boepd. Saat itu, cost recovery-nya sekitar US$ 200 juta. Kemudian di tahun 2008, lifting Blok NSO mencapai 35 juta boepd dan cost recovery-nya hanya US$ 50 juta. Namun, tahun ini lifting NSO di bawah 5 juta boepd, sedangkan cost recovery-nya hampir mencapai US$ 150 juta.

Penurunan produksi di lapangan migas yang ada di Indonesia juga tidak terpengaruh terhadap siapapun presiden yang mempimpin. Zaman Presiden B.J. Habibie produksi migas rata-rata masih tinggi, seperti Blok NSO. Sementara di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah mulai turun secara alamiah karena karakteristik lapangan migas.

Jadi, kalau lapangan tua biasanya lifting turun, dan biayanya naik. “Naik turunnya cost recovery tidak ada hubungan dengan zaman Megawati, SBY, dan Habibie," kata Amien.

Untuk itu ia mendorong kontraktor migas untuk giat melakukan eksplorasi dengan begitu ditemukan cadangan baru migas. Apalagi kondisi blok migas saat ini terus menurun jumlahnya.

Mengacu data SKK Migas, Sejak Januari sampai Oktober 2018, lifting migas telah mencapai 1.917 juta barel setara minyak per hari (boepd). Sementara target APBN 2018 sebesar 2.000 juta boepd.

Jika dirinci lifting minyak baru mencapai 774 ribu barel per hari (bph), ini baru 97% dari target APBN 2018 sebesar 800 ribu bph. SKK Migas menargetkan akhir tahun ini lifting minyak tak mencapai target atau sebesar 776 ribu bph, ini berarti baru 97% dari target.

Begitu juga lifting gas, capaiannya baru mencapai 1.143 juta boepd, ini baru 95% dari target APBN 2018 sebesar 1.200 juta boepd. Adapun sampai akhir tahun ini capaiannya diproyeksikan sebesar 95% dari target, atau sebesar 1.136 juta boepd.

(Baca: Jonan Ancam Tolak Kenaikan Cost Recovery jika Produksi Turun)

Sementara itu, penerimaan negara dari hulu migas selama 10 bulan terakhir telah mencapai US$ 14,6 miliar atau 123% dari target APBN us$ 11,9 miliar. Ini sudah melampaui target, sementara akhir tahun ini penerimaan negara dari migas diproyeksikan sebesar US$ US$ 17,5 miliar.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha