SKK Migas Sebut Target Investasi Meleset Bukan karena Gross Split

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

Kamis 8/11/2018, 15.07 WIB

Menurut Kepala SKK Migas, investor tidak memperhatikan skema gross split, melainkan tingkat pengembalian investasi.

SKK Migas
Arief Kamaludin|KATADATA
SKK Migas

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memprediksi hingga akhir tahun ini investasi hulu minyak dan gas bumi (migas) tidak mencapai target. Namun, penyebabnya bukan skema kontrak gross split.

Mengacu data SKK Migas, sejak Januari sampai Oktober 2018, investasi hulu migas hanya US$ 8,7 miliar atau 61% dari target investasi tahun ini sebesar US$ 14,2 miliar. Adapun SKK Migas memprediksi hingga akhir tahun investasi hulu migas hanya mencapai US$ 11,2 miliar atau 79% dari target.

Jika melihat tren tiga tahun ke belakang, tahun 2015 investasi migas mencapai US$15,33 miliar. Lalu tahun 2016, turun menjadi US$ 11,6 miliar. Setelah itu pada 2017 turun lagi menjadi US$ 10,27 miliar.

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengatakan penyebab investor enggan mengeluarkan dananya untuk investasi di Indonesia salah satunya adalah tingkat pengembaliannya atau Internal Rate of Return (IRR). Menurutnya, investor bukan mempermasalahkan gross split asalkan bisa membuat proyek ekonomis.  

Kedua, faktor kepastian (certainty). Investor membutuhkan kepastian hukum seperti regulasi, ini karena investor membutuhan kepastian hukum sebelum berinvestasi.

"Saya sudah diskusi sama investor. Keputusan investasi mereka tidak didasarkan cost recovery atau gross split," ujar Amien dalam sarasehan media di Ciloto, Jawa Barat, Kamis (8/11).

Tak hanya itu, penyebab investasi tak tercapai adalah belum adanya penemuan cadangan migas besar di Indonesia. Padahal penemuan cadangan ini bisa mendongkrak investasi karena akan mendorong pembangunan fasilitas produksi.

Penemuan cadangan migas besar saat ini hanya Banyu Urip di Cepu Jawa Timur, dan Jangkrik di Blok Muara Bakau di Kalimantan Timur. Menurutnya rata-rata penemuan cadangan migas besar ditemukan oleh investor asing seperti ENI, ExxonMobil dan Total.

PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan dalam negeri jarang menemukan temuan cadangan migas. Penyebabnya, minimnya kegiatan eksplorasi. 

Meski begitu, Amien menargetkan tahun depan investasi migas akan membaik. Ini karena ada komitmen kerja pasti dari kontraktor yang mendapatkan blok migas terminasi. Salah satunya adalah Pertamina di Blok Jambi Merang. Blok ini habis 2019 mendatang, total komitmen kerja pastinya US$ 239,3 juta atau sekitar Rp 3,3 triliun.

(Baca: Empat Tahun Jokowi-JK, Investasi Sektor Energi Terus Turun)

Menurut Amien penerapan komitmen kerja pasti merupakan terobosan baru pemerintah untuk membuat kegiatan hulu migas bisa berjalan masif di blok-blok terminasi. Apalagi menurutnya dana komitmen kerja pasti tidak hanya dipakai pada blok migas yang dikelola saja, tapi bisa juga dipakai untuk melakukan kegiatan eksporasi di wilayah kerja terbuka di sekitar blok tersebut.

Mengacu data SKK Migas, mulai 2019-2026 akan ada 13 KKKS di blok terminasi yang akan menunaikan komitmen kerja pastinya. Totalnya mencapai US$ 1,307 miliar.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha