Investor Asing Pegang Obligasi Negara Rp 881 T, Tertinggi di 2018

Penulis: Martha Ruth Thertina

15/11/2018, 12.22 WIB

Nilai tukar rupiah bertahan di bawah kisaran Rp 15.000 per dolar AS.

Dolar Amerika Serikat
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Kementerian Keuangan mencatat dana asing terus mengalir ke Surat Berharga Negara (SBN) mulai 19 Oktober lalu. Sejak itu hingga 9 November kepemilikan asing atas SBN naik Rp 31,87 triliun menjadi Rp 881,89 triliun atau yang tertinggi sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut memperkuat nilai tukar rupiah sehingga mampu bertahan di bawah Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Meski secara nominal tinggi, persentase kepemilikan asing atas SBN tercatat lebih terkendali. Saat ini berkisar 37%, lebih rendah dibandingkan 40% pada awal tahun. Bila dilihat lebih detail, kepemilikan SBN oleh pemerintah dan bank sentral negara lain juga menanjak dan mencapai 164,81 triliun per 9 November. Kepemilikan SBN ini relatif berjangka panjang sehingga semestinya tidak akan keluar masuk dengan cepat sehingga mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah.

(Baca juga: Dana Asing Masuk dan Kurs Rupiah Stabil, Bunga Acuan BI Diramal Tetap)

Seiring aliran masuk dana asing, kepemilikan BI atas SBN kembali menurun. Sebelumnya, untuk menahan kejatuhan harga SBN, BI melakukan intervensi dengan membeli SBN yang dilepas asing. Kepemilikan SBN oleh BI sempat mencapai Rp 270 triliunan pada Juni, namun per 9 November lalu hanya Rp 83,63 triliun.

Dengan perkembangan tersebut, maka komposisi kepemilikan SBN terdiri dari perbankan 27,94%, institusi pemerintah 3,57%, dan non-bank 68,49% (termasuk kepemilikan asing 37,22%). Secara rinci,pada kelompok non-bank, pemegang SBN terbesar yakni asing 37,22%, lalu sisanya domestik yaitu dana pensiun 8,94%, asuransi 8,49%, lainnya 5,73%, dana mutual 4,85%, individu 3,25%.

Adapun nilai tukar rupiah tercatat dalam kecenderungan menguat sejalan arus masuk dana asing ke pasar obligasi dan saham. Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level 14.400 per dolar AS pada Kamis (7/11) sebelum kemudian kembali melemah hingga saat ini berada di kisaran 14.700 per dolar AS. Saat berita ini ditulis Kamis (14/11) siang, nilai tukar rupiah diperdagangkan pada rentang 14.742-14.777 per dolar AS.

(Baca juga: Ada Ancaman Global, Rupiah Berisiko Dekati 16.000 per Dolar AS di 2019)

Seiring stabilnya nilai tukar rupiah di tengah aliran masuk dana asing, para ekonom memprediksikan Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) belum akan mengerek bunga acuan dalam rapat bulanan yang berlangsung pada 4-5 November ini. Kenaikan diprediksi baru akan terjadi pada Desember, bila bank sentral AS mengerek bunga acuannya, Fed Fund Rate, sesuai prediksi. "Saya pikir masih ditahan, baru Desember bisa dilihat perbedaannya dengan bunga acuan AS Fed Fund Rate," kata Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan