Lion Air Minta Klarifikasi Laporan Awal KNKT Soal PK-LQP

Penulis: Hari Widowati

Kamis 29/11/2018, 09.40 WIB

Lion Air mengancam akan menempuh jalur hukum jika tak ada tanggapan dari KNKT.

Lion Air Jatuh
Ajeng Dinar Ulfiana|KATADATA.
Para petugas Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengangkat kotak hitam di kawasan Jakarta International Container Terminal (JICT) II, Tanjung Priok, Jakarta Utara, (1/11). Kotak hitam atau black box pesawat Lion Air JT-610 sudah ditemukan di perairan Karawang.

PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) akan menyurati Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk meminta klarifikasi terkait laporan awal (preliminary report) investigasi pesawat PK-LQP yang jatuh di Tanjung Karawang pada 29 Oktober 2018.

Direktur Utama Lion Air Group Edward Sirait dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (28/11) malam, mengatakan ada ketidaksesuaian antara laporan yang dikeluarkan oleh KNKT dengan pemberitaan di media.

"Ada berita yang beredar kita di sini mengatakan bahwa pesawat tersebut sudah tak layak terbang sejak terbang dari Denpasar. Pernyataan ini menurut kami tak benar," kata Edward sebagaimana dikutip Antara.

(Baca: Hasil KNKT: Lion Air PK-LQP Tak Laik Terbang dari Denpasar ke Jakarta)

Untuk itu, Lion akan meminta klarifikasi kepada KNKT apakah pernyataan tersebut benar bersumber dari KNKT. "Langkah kami mengklarifikasi pernyataan KNKT akan kami lakukan secara tertulis. Apabila tak ada tanggapan, kami akan tempuh jalur hukum," katanya.

Setidaknya terdapat tiga hal yang dibantah oleh Lion Air. Pertama, soal pernyataan KNKT yang menyebutkan pesawat PK-LQP tidak laik terbang dari Denpasar ke Jakarta. Kedua, soal Lion Air memberikan data yang tidak benar. Ketiga, pernyataan KNKT yang menyebutkan Lion Air tidak menciptakan budaya keselamatan secara baik.

Edward membantah kalau pesawat PK-LQP tidak laik terbang sejak di Denpasar. "Kami selalu memberikan data yang benar, ini perlu kami klarifikasi. Namun dalam kasus ini ada dua dokumen yang berbeda. Jadi, tak benar pesawatnya tak laik terbang dari Denpasar," ujarnya.

Sebelumnya, KNKT menyebutkan Lion Air melaporkan ada 5 orang pramugari dalam penerbangan JT-610 namun dari Flight Data Recorder (FDR) diketahui ada 6 orang pramugari dalam penerbangan tersebut. Terkait perbedaan jumlah kru kabin (pramugari) di pesawat, Edward menuturkan, satu kru merupakan inspektur jadi tidak terhitung sebagai kru di data kotak hitam FDR. Hal ini bisa menimbulkan persepsi yang berbeda terhadap kecelakaan pesawat Boeing 737-8 MAX dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang tersebut.

(Baca: Laporan Awal KNKT, Hidung Pesawat PK-LQP Naik Turun Sebelum Jatuh)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha