Genjot Ekspor Pertanian, Kementan Kerja Sama Karantina Internasional

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

Jum'at 30/11/2018, 15.53 WIB

Kementerian Pertanian juga melakukan pendampingan petani untuk memenuhi persyaratan protokal karantina sebagai komoditas ekspor.

Kakao
ANTARA FOTO/ Akbar Tado
Cokelat menjadi salah satu komoditas yang diekspor Indonesia dalam kerja sama Indonesia-Australia Comphrehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Bersama dengan manggis, salak, kopi ekspor komoditas tersebut mencetak total nilai ekspor US$ 667,8 juta.

Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian selama empat tahun terakhir telah mengikuti perundingan Sanitary and Phytosanitary (SPS) serta protokol karantina dengan 18 negara. Perundingan SPS itu antara lain telah menghasilkan empat perjanjian untuk mempercepat akses pasar ekspor  dan menjadikan komoditas pertanian dalam negeri mampu menembus pasar dunia.  

"SPS agreement salah satunya bertujuan untuk mempercepat arus perdagangan internasional," kata Kepala Badan Karantina Pangan Kementerian Pertanian Banun Harpini di Jakarta, Jumat (30/11).

Adapun perjanjian pertama yang dicapai yaitu, Indonesia-Australia Comphrehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), yang mana Indonesia berhasil mengirim komoditas coklat, manggis, salak, kopi dengan total nilai ekspor US$ 667,8 juta. Kedua, Indonesia-Chile CEPA untuk komoditas sawit dan jagung senilai US$ 143,8 juta.

Ketiga, Asean dan Hongkong-Cina FTA dengan produk tepung kelapa, kopi, madu, coklat, teh, dan sarang burung walet bernilai US$ 3 miliar. Terakhir, Indonesia-EFTA CEPA untuk komoditas rempah, kakao, kopi, teh, produk kayu, dan ikan dengan total nilai ekspor US$ 1,2 miliar. (Baca: Dolar Menguat, Kementan Targetkan Ekspor Pertanian Tembus Rp 499 T)

Selain memperkuat ekspor komoditas pertanian, Kementerian Pertanian juga melakukan pendampingan petani untuk memenuhi persyaratan protokal karantina sebagai komoditas ekspor. Komoditas yang didorong itu adalah manggis dan sarang burung walet.

Pendampingan melalui penyuluhan tempat produksi dan juga memperkuat sistem registrasi untuk jaminan kepada negara menjadi tujuan ekspor. "Kami harmonisasi standar SPS dengan negara mitra dagang untuk mencapai kelas dunia tahun 2024," ujarnya.

Pelayanan berkelas dunia yang dilakukan Karantina melalui kemudahan izin dan percepatan layanan bagi eksportir komoditas pertanian juga sudah dirasakan oleh beberapa mitra kerja, salah satunya adalah PT. Mayora Indah Tbk.

 (Baca: Kementan Kawal Ekspor 300 Ton Cocoa Butter Kendari ke Belanda)

"Kami mendapatkan layanan prioritas dengan profesional sehingga kinerja perusahaan dapat lebih ditingkatkan," kata Johan, perwakilan Mayora, dalam keterangan resmi Kementerian Pertanian.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha