Ada Kemajuan Smelter, Dua Perusahaan Dapatkan Lagi Izin Ekspor

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Arnold Sirait

Selasa 4/12/2018, 15.34 WIB

Perkembangan pembangunan pabrik smelter kedua perusahaan itu sudah mencapai 98%.

Tambang
KATADATA
Ilustrasi Tambang.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan lagi izin ekspor nikel kepada PT Integra Mining Nusantara dan PT Modern Cahaya Makmur. Sebelumnya, izin ekspor kedua perusahaan tersebut dicabut karena belum ada progres pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian konsentrat (smelter).

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan izin itu kembali diberikan karena sudah ada kemajuan dalam pembangunan smelter. Hingga bulan November pembangunan smelter dua perusahaan itu sudah mencapai 98%.

Dengan kemajuan pembangunan proyek itu, kedua perusahaan pun telah mengajukan permohonan untuk bisa melakukan ekspor."Yang sudah memenuhi PT Intergra dan PT Modern Cahaya," kata dia, di Jakarta, Senin (4/12).

Di sisi lain, ada dua perusahaan yang hingga saat masih belum bisa melakukan ekspor karena belum ada progres smelter. Mereka adalah PT Lobindo Nusa Persada dan PT Surya Saga Utama.

Selain belum ada progres smelter, rekomendasi izin ekspor Lobindo dan Surya Saga sudah juga sudah habis. Pihaknya, belum kembali mengajukan izin ekspor ke Kementerian ESDM. “Belum ada progres daan masa berlaku ekspornya sudah berakhir," kata Agung.

PT Modern Cahaya Makmur memproduksi nikel dan berada di Konawe, Sulawesi Tenggara, dengan rekomendasi ekspor 298.359 wet metric ton (WMT). Bulan Agustus 2018, penambahan fisik smelter hanya sebesar 76,38 persen sejak 23 November 2018.

Lalu, PT Integra Mining Nusantara. Perusahaan yang memproduksi nikel ini berada di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dengan rekomendasi ekspornya 923.760 WMT. Sebelumnya, Kemajuan fisik hingga 28 Juni 2018 masih 20 persen. Sedangkan, pembangunan smelter sudah mulai dilakukan 28 Desember 2018.

PT Lobindo Nusa Persada. Perusahaan yang memproduksi bauksit ini berada di Bintan, Kepulauan Riau, dengan rekomendasi ekspor 1.500.000 WMT. Sejak rekomendasi pembangunan pada 30 Oktober 2017 belum ada progres smelter.

(Baca: Pembangunan Smelter Belasan Perusahaan Tambang 'Jalan di Tempat')

PT Surya Saga Utama. Perusahaan yang memproduksi nikel ini berada di Bombana, Sulawesi Tenggara, dengan rekomendasi ekspor 3.000.000 WMT. Kemajuan pembangunan smelter sejak 23 November 2018 hanya mencapai 39,44%.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha