Kementerian BUMN Prediksi Laba Bersih Pertamina Tak Capai Target

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Hari Widowati

Rabu 5/12/2018, 19.34 WIB

Perolehan laba bersih Pertamina akhir tahun ini akan lebih rendah dari tahun lalu yang sekitar US$ 2,5 miliar atau Rp 32,25 triliun.

Menembus Bumi Menjemput Energi (Rig On Shore Pertamina)
ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Pekerja PT Pertamina (Persero) di salah satu rig.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memprediksi laba bersih PT Pertamina (Persero) hingga akhir tahun ini tidak mencapai target yang ditetapkan awal tahun ini sebesar Rp 32,77 triliun. Salah satu faktor penyebabnya adalah harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar dan Premium yang tidak berubah di tengah harga minyak dunia yang terus bergerak naik.

Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan, Pertamina telah merevisi target laba untuk tahun ini pada Juli lalu. Namun, ia tidak merinci berapa besar target laba bersih yang baru. Adapun target awal laba bersih Pertamina tahun ini sebesar Rp 32,77 triliun. Sementara itu, hingga kuartal III 2018 laba bersih Pertamina hanya mencapai Rp 5 triliun.

Menurut Fajar, perolehan laba bersih Pertamina akhir tahun ini juga akan lebih rendah dari tahun lalu yang sekitar US$ 2,5 miliar atau sekitar Rp 32,25 triliun. "Mungkin enggak mencapai target," kata Fajar di Jakarta, Rabu (5/12).

Akibat laba yang tak mencapai target tahun ini, Fajar mengaku dividen yang akan disetor Pertamina ke pemerintah di tahun depan juga akan berkurang. Pada September 2018, DPR memutuskan Pertamina dibebankan dividen untuk dibayar tahun depan sebesar Rp 3,4 triliun.

Menurut Fajar, dengan kondisi keuangan Pertamina saat ini, ia memperkirakan dividen yang akan disetor Pertamina tahun depan akan di bawah Rp 3,4 triliun. "Artinya dividen yang dibayarkan ke pemerintah juga berkurang karena labanya turun, kan berpengaruh ke dividen," kata dia.

(Baca: Pertamina Tanggung Utang Rp 522 Triliun, Laba Bersih Cuma Rp 5 Triliun)

Pertamina tidak membantah kalau laba bersih 2018 akan turun signifikan, walaupun laba tahun ini ditargetkan sama dengan realisasi tahun 2017. "Tentunya berkurang, tapi kami masih akan membukukan laba sampai akhir tahun," kata Direktur Keuangan Pertamina Pahala N. Mansury beberapa waktu lalu.

Laporan Fitch Rating menyebutkan, beban keuangan Pertamina akan bertambah berat karena harga BBM jenis Solar dan Premium tidak naik. Bahkan, peringkat utang perusahaan pelat merah itu terancam turun.

Berdasarkan publikasi Fitch Rating, EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) atau pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi Pertamina sepanjang 2018 akan turun di bawah US$ 6 miliar. Padahal, EBITDA Pertamina tahun lalu bisa mencapai US$ 6,9 miliar.

Penurunan itu disebabkan pemerintah menahan harga Solar dan Premium di saat harga minyak terus meningkat. Alhasil, Pertamina harus menanggung beban selisih harga keekonomian yang dijual ke masyarakat.

Penambahan subsidi Solar menjadi Rp 2.000 per liter dari Rp 500 per liter itu pun tidak membantu signifikan. Namun, harga Solar dan Premium yang dijual Pertamina ditambah subisidi itu masih di bawah harga pasar sekitar 60-75%.

(Baca: Tersandera Harga BBM, Laba Pertamina Diprediksi di Bawah US$ 6 Miliar)

 (Baca: 

Reporter: Anggita Rezki Amelia

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha