Besarnya Ketergantungan pada Hot Money Buat Rupiah Mudah Bergejolak

Penulis: Martha Ruth Thertina

Kamis 6/12/2018, 13.16 WIB

“Komposisi modal asing yang didominasi hot money ini harus diperbaiki. Selama masih sama kita akan terus dihadapkan dengan volatility," kata Direktur CORE.

Dolar
Arief Kamaludin|KATADATA

Penguatan cepat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi lebih dari sebulan terakhir mendadak terhenti pada Selasa (4/12). Hingga saat berita ini ditulis, rupiah terus mengalami tekanan sehingga menembus Rp 14.561 per dolar AS. Besarnya ketergantungan Indonesia terhadap investasi asing di saham dan obligasi (portofolio) jadi penyebab nilai tukar rupiah rentan gejolak.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah menjelaskan pergerakan nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh aliran masuk dana asing dalam bentuk portofolio atau hot money. “Saat hot money mengalir masuk dengan deras rupiah menguat kencang, tapi saat terjadi pembalikan, hot money keluar rupiah juga dengan cepat terpuruk dalam,” kata dia kepada Katadata.co.id, Kamis (6/12).

Adapun pergerakan hot money disebutnya rentan terhadap isu global dan domestik. Maka itu, ia menekankan, komposisi investasi asing yang didominasi hot money ini benar-benar harus diperbaiki. “Selama komposisinya sama kita akan terus dihadapkan dengan volatility rupiah,” ujarnya.

(Baca juga: Menko Darmin Harapkan Hot Money Bawa Rupiah Kembali ke 13.000)

Bila mengacu pada data Kementerian Keuangan, kepemilikan asing di obligasi negara atau Surat Berharga Negara (SBN) saja mencapai Rp 900,59 triliun atau 37,8% dari total SBN yang diperdagangkan per akhir November lalu. Nominal ini merupakan yang tertinggi sepanjang tahun, namun porsinya tercatat lebih baik dibandingkan awal tahun yang sempat menembus 41%.

Adapun beberapa waktu belakangan ini, pelemahan cepat nilai tukar rupiah disebut Pieter lantaran kembali terjadinya tekanan arus keluar dana asing dari portofolio imbas meningkatnya pesimisme terkait negosiasi dagang antara AS dengan Tiongkok. Hal ini dipicu oleh tweet Presiden AS Donald Trump bahwa pihaknya siap memberlakukan kebijakan tarif bila kesepakatan yang adil dengan Negeri Tirai Bambu tidak tercapai.

(Baca juga: Melemah 3 Hari Berturut-turut, Rupiah Kembali ke 14.500 per Dolar AS)

“Pasar yang semula optimis dengan gencatan senjata AS dan Tiongkok (penundaan perang dagang selama 90 hari) karena bisa diharapkan menjadi awal dihentikannya perang dagang sekarang seperti disadarkan dan kembali pesimis,” kata dia.

Mengacu pada data RTI, investor asing membukukan penjualan bersih (net foreign sell) di pasar saham sebesar Rp 877,36 miliar pada Rabu (5/12) setelah tweet Trump tersebut dan berlanjut pada Kamis (6/12) ini. Saat berita ini ditulis, net foreign sell tercatat sebesar Rp 326,3 miliar. Seiring kondisi tersebut, indeks harga saham gabungan (IHSG) terkoreksi.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha