Kementerian Kelautan Bidik Tambahan Ekspor Udang US$ 1 Miliar

Penulis: Michael Reily

Editor: Dini Hariyanti

13/12/2018, 14.03 WIB

Produksi nasional perlu dipacu guna meningkatkan kinerja ekspor udang. Realisasi ekspor tercatat US$ 1,5 miliar pada Januari - Oktober 2018.

Pusat Perikanan Nasional
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Nelayan melintas di dermaga kecil di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu (29/7).

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengincar tambahan ekspor udang senilai US$ 1 miliar setiap tahun. Pemerintah menginginkan Indonesia termasuk dalam jajaran negara pemasok udang terbanyak, khususnya ke Amerika Serikat dan Eropa.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Rifky Effendi Hardijanto menyatakan bahwa ekspor udang ke Amerika Serikat (AS) dan Eropa terbilang masih sedikit. Oleh karena itu, produksi nasional perlu dipacu sehingga kinerja ekspor meningkat. 

“Kalau kita bisa menambah (nilai ekspor) US$ 1 miliar dalam tiga tahun ke depan, kita bisa membantu memperbaiki neraca perdagangan Indonesia,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis (13/12).

Rifky menyebutkan, Indonesia adalah pemasok udang terbanyak kedua untuk pasar AS setelah India. Sementara itu, suplai udang nasional ke pasar Eropa tak termasuk sepuluh besar. Nilai ekspor ke Eropa sekitar US$ 84 juta sedangkan market size di sana mencapai US$ 6 miliar.

Udang merupakan andalan ekspor produk perikanan Indonesia. Realisasi penjualan komoditas perikanan ini ke luar negeri senilai US$ 1,5 miliar pada Januari - Oktober 2018. (Baca juga: Ekspor Udang Indonesia Diprediksi Tembus Rp 26 Triliun Tahun Ini

Permintaan udang dunia belum terpenuhi sehingga peluang Indonesia untuk mengoptimalkan kinerja ekspor terus terbuka. Tapi, di dalam negeri pun operasional pengolahan udang nasional baru 60% dari total kapasitas.

Oleh karena itu, bisnis pengolahan udang domestik kerap kekurangan bahan baku. Rifky menjelaskan, salah satu solusi ialah memperbanyak tambak untuk mendongkrak produksi udang disertai dengan perbaikan teknologi.

"Kita juga dorong intensifikasi dan penggunaan teknologi kolam bioflok udang," ujarnya. Perbaikan kualitas teknologi perlu diterapkan sejak tahap penetasan, pembibitan, hingga pembesaran udang.

Indonesia juga perlu melakukan penataan wilayah yang menjadi sentra penetasan udang. Hal ini bertujuan agar terbentuk klasterisasi untuk mempermudah alur logistik benih. (Baca juga: Persaingan Ketat, Eksportir Udang Incar Pasar Nontradisional)

Selain itu, pelaku bisnis perlu memahami jenis udang yang disukai negara tujuan ekspor. Misalnya, monodon (udang windu) lebih disukai konsumen di Eropa sedangkan udang jerbung yang banyak diminati negara Asia Timur, seperti Jepang.

Menurut Rifky, alur logistik dari hulu alias petambak hingga ke hilir juga perlu dibenahi. Hal ini dapat membantu upaya pembebasan atau pengurangan tarif bea masuk produk perikanan Indonesia ke negara tujuan ekspor.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha