Harga Minyak WTI Sentuh Level US$ 40, Terendah dalam 15 Bulan

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

18/12/2018, 10.26 WIB

Salah satu penyebabnya adalah melimpahnya produksi minyak Amerika Serikat.

minyak
Katadata

Harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) menyentuh level terendah sejak September 2017. Salah satu pemicu penurunan harga “emas hitam” itu adalah kekhawatiran investor terhadap kelebihan pasokan minyak di pasar dari Amerika Serikat.

Mengacu Bloomberg, harga WTI untuk kontrak Januari 2019 ditutup US$ 49,88 per barel di New York Mercantile pada perdagangan Senin (17/12). Bahkan, pada perdagangan kemarin sempat merosot ke level US$ 49,01 per barel yakni level terendah sejak September 2017. Adapun pada September 2017 harga WTI menyentuh level US$ 49,88 per barel. 

Jika mengacu data pergerakan WTI selama 11 bulan terakhir harganya bergerak fluktuatif. WTI pernah mencapai US$ 65,56 per barel pada 29 Januari 2018. Lalu pada 22 Februari 2018 pernah turun ke ke level US$ 62,77 per barel. Lalu pada 26 Maret 2018, WTI sebesar US$ 65,55 per barel. Lalu mencapai puncak tertinggi selama 11 bulan terakhir pada 3 Oktober 2018 sebesar US$ 76,41 per barel.

Penurunan juga terjadi pada harga minyak jenis Brent. Perdagangan Senin (17/12), harga Brent ditutup sebesar US$ 59,61 per barel di Bursa ICE Futures Europe London untuk kontrak Februari 2019. Harga Brent juga sempat merosot pada sesi perdangan kemarin sebesar US$ 58,83 per barel.

Dalam sepekan terakhir Brent bergerak fluktuatif, pada 13 Desember 2018,Brent menyentuh US$ 59,41 per barel. Setelah itu Brent sempat naik menjadi US$ 60,27 per barel pada 14 Desember 2018. Setelah itu pada 15 Desember 2018 Brent mencapai US$ 60,30 per barel.

Penurunan harga ini dipengaruhi melimpahnya pasokan dari Amerika Serikat yang membanjiri pasar. Produksi minyak di tujuh cekungan yang ada di Amerika diperkirakan akan melampaui 8 juta barel per hari (bph) pada akhir tahun ini. Ini berdasarkan laporan bulanan Administrsi Informasi Energi AS.

Faktor lainnya adalah kekhawatiran investor yang mengantisipasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Kenaikan suku bunga dianggap dapat memperlambat ekonomi. Sehingga berpengaruh terhadap permintaan minyak.

(Baca: Pelemahan Rupiah dan Harga Minyak Merontokkan Harga Saham)

Di sisi lain, efek dari rencana OPEC, Rusia dan eksportir minyak terbesar memangkas produksi belum terlihat pengaruhnya terhadap harga minyak. Justru, harga minyak terus merosot.

Sebagaimana diketahui, OPEC dan sekutunya telah sepakat untuk mengurangi produksi 1,2 juta barel per hari (bph) dari Bulan Januari 2019 mendatang. Pemangkasan produksi tersebut untuk menyeimbangkan pasar.

Pavel Molchanov, seorang analis Raymond James & Associates Inc mengatakan biasanya perlu waktu sekitar enam minggu bagi negara-negara OPEC untuk menerapkan perubahan pasokan. Arab Saudi, yang merupakan produsen terbesar di OPEC juga menghadapi tekanan politik tambahan dari Presiden AS Donald Trump untuk menjaga agar keran tetap terbuka.

"Selalu ada tanda tanya mengenai sejauh mana negara-negara OPEC dan Rusia akan atau tidak akan memenuhi janji mereka," kata Molchanov mengutip Bloomberg, Selasa (18/12).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha