OJK Belum Yakin Dengan Keseriusan Investor Bank Muamalat

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Happy Fajrian

20/12/2018, 11.42 WIB

Otoritas Jasa Keuangan masih mencari investor yang benar-benar serius mengembangkan Bank Muamalat agar bisa bersaing dengan bank konvensional.

Kantor Bank Muamalat
Arief Kamaludin | Katadata
Kantor Bank Muamalat

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum yakin dengan keseriusan investor yang mau menyuntikan modal ke PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Mereka ingin investor serius dalam membangun Bank Muamalat menjadi bank syariah yang mampu bersaing dengan bank konvensional.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan, karena keinginan pihaknya membuat Bank Muamalat tumbuh, maka investornya perlu dinilai dengan lebih hati-hati. "Karena yang kami inginkan adalah bank itu nanti mempunyai permodalan kuat dan caranya betul-betul kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan," kata Heru di kantornya, Jakarta, Rabu (19/12).

Dia menilai, sudah waktunya Indonesia memiliki bank syariah yang kuat, karena negara ini merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak. Dengan keinginan seperti itu, OJK ingin investor Bank Muamalat bisa membawa bank ini bersaing dengan bank konvensional.

(Baca: Perkuat Modal, Bank Muamalat Terbitkan Saham Baru Rp 2 Triliun)

Heru tidak mau, investor yang masuk tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan Bank Muamalat dalam jangka panjang. "Kita mau rencana bisnisnya (dari investor) seperti apa. Kalau (rencana bisnis) sekedar begitu-begitu saja, nanti dulu. Kami cari (investor lain) saja yang kuat," kata Heru.

Terlebih lagi, bank-bank konvensional saat ini banyak yang juga memperkuat permodalan mereka dengan melakukan skema penggabungan alias merger. Dia ingin, meski bank konvensional terus meningkatkan kualitas produknya, bank syariah khususnya Bank Muamalat bisa mengembangkan kualitas produk lebih dari bank konvensional.

Dia menegaskan, OJK tidak mau perkembangan industri perbankan syariah hanya setengah-setengah saja. Industri tersebut harus benar-benar menjadi bank yang bisa bersaingan secara nasional, bahkan bersaingan di kancah internasional.

Bank Muamalat pada Oktober lalu menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB). Mereka mendapatkan restu dari pemegang saham untuk menambah modal melalui skema penawaran umum terbatas saham baru. Konsorsium yang dipimpin oleh Ilham Habibie menjadi pihak yang mengeksekusi penawaran melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias right issue.

Direktur Utama Bank Muamalat Achmad K. Permana, saat itu mengatakan perusahaannya akan menerbitkan 20 miliar lembar saham baru senilai Rp 100 per lembar. Dengan demikian, dana segar yang akan terkumpul Rp 2 triliun. (Baca: Bank Muamalat Targetkan Investor Baru Masuk Sebelum Ganti Tahun)

Heru mengatakan, hingga saat ini pun pihaknya masih menilai soal janji konsorsium yang beranggotakan beberapa pengusaha, termasuk pemilik Grup Medco Arifin Panigoro, Lynx Asia, dan SSG Hong Kong. Heru sedang menilai janji jangka panjang konsorsium itu apakah bisa membawa Bank Muamalat menjadi besar atau tidak. "Saya butuh diyakinkan oleh mereka," kata Heru menegaskan.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan