Ekspansi Bisnis Obat, Phapros Siapkan Capex Rp 350 Miliar pada 2019

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Ekarina

26/12/2018, 17.30 WIB

Pertumbuhan kinerja organik perseron saat ini masih bertumpu pada penjualan produk obat.

farmasi
KATADATA
farmasi

Emiten produsen obat, PT Phapros Tbk (PEHA) siapkan belanja modal (capital epxpanditure/capex) sebesar Rp 350 miliar pada tahun depan. Investasi  tersebut rencananya akan digunakan untuk ekspansi usaha guna mendukung pertumbuhan bisnis organik dan anorganik. Selain itu, anggaran tersebut akan digunakan untuk biaya modal kerja dan restrukturisasi modal.

Adapun, sumber dana belanja modal tahun depan Rp 350 miliar rencananya berasal dari pinjaman bank dan non-bank seperti penerbitan medium term note (MTN) atau penambahan jumlah saham (right issue) yang diperkirakan akan dilakukan pada Semester II-2019. Dari aksi korporasi tersebut, perseroan menargetkan bisa meraih dana sebesar Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun atau setara dengan 25% saham.

(Baca: Perdana Diperdagangkan di Bursa, Saham Phapros Melesat 50%)

Direktur Utama Phapros Barokah Sri Utami mengatakan, pertumbuhan kinerja organik perseron saat ini masih bertumpu pada penjualan produk obat. Phapros merupakan perusahaan farmasi yang telah memproduksi lebih dari 250 jenis obat. Salah satu produk unggulan Phapros yang telah cukup dikenal luas adalah Antimo.

Melalui pertumbuhan bisnis  organik, perusahaan menargetkan kinerja pendapatan dan laba bersih 2019 mampu tumbuh double digit. "Kami komitmen untuk growing double digit, baik penjualan maupun laba tahun depan," ujarnya.

Berdasarkan laporan keuangan per September 2018, Phapros mencatat pendapatan sebesar Rp 697 miliar atau meningkat 8,8% dibanding pendapatan periode yang sama pada tahun lalu.

Sedangkan, di sisi laba bersih mengalami pertumbuhan mencapai 33,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Per September 2018, Phapros telah membukukan laba sebesar Rp 96 miliar. Hal ini sesuai dengan harapan Komisaris dan Direksi untuk growing double digit (di akhir tahun 2018)," kata dia.

(Baca: Merck Revisi Besaran Dividen Interim Atas Anjuran BEI)

Sementara, dari sisi anorganik, Phapros berencana untuk membentuk dua perusahaan patungan alias joint venture dengan perusahaan yang bergerak di bidang farmasi. Sayangnya, Emmy masih enggan menjelaskan detail perihal rencana pembentukan perusahaan patungan tersebut, hanya saja dua perusahaan yan tengah dijajaki itu disebutnya berasal dari Korea Selatan dan Myanmar.

"Akan joint venture dengan beberapa perusahaan farmasi di Asia. Inisiatif akuisisi ada tapi karena masih tahap dalam evaluasi kami tidak sebut dulu. Nanti kalau sudah berhasil," ujarnya.

Sebagai informasi, perseroan telah mengakuisisi perusahaan farmasi PT Lucas Djaja dan entitas anak yang berlokasi di Bandung. Perusahaan menandatangani perjanjian jual-beli saham dengan Lucas Djaja Group  berupa pembelian 55% saham Lucas Djaja.

Saat ini, volume produksi Phapros sudah mencapai 3 miliar tablet per tahun dan 200 juta obat injeksi per tahun. Dengan rencana kerja sama dan realisasi akuisisi pabrik obat, perseroan memperkirakan bisa meningkatkan volume produksi obat sebesar 10% per produk.




Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan