Kisaran Rp 300 Ribu, Motif Lawas Tetap Favorit Pecinta Batik

Penulis: Dini Hariyanti

3/1/2019, 16.28 WIB

Lawasan atau lawas istilah untuk menyebut batik berusia tua yang pernah digunakan.

Trade Expo Indonesia 2018
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Seorang wanita sedang membentang kain batik dalam acara Trade Expo Indonesia 2018. TEI merupakan ajang promosi tahunan berskala internasional yang menampilkan produk dan jasa Indonesia berorientasi pasar ekspor.

Batik lawas Solo terus menjadi kegemaran konsumen. Kain klasik berusia tua ini dibanderol antara Rp 100.000 - Rp 300.000 per potong. Sebutan lawas mengindikasikan batik bersangkutan adalah barang lama yang pernah digunakan.

M. Tomi Tamsis salah satu pengusaha batik asal Solo, Jawa Tengah mengatakan motif klasik tetap favorit pecinta batik meskipun banyak corak baru yang bermunculan. "Motif seperti kawung, parang dengan warna sogan masih sangat diminati," katanya, di Solo, Kamis (3/1).

Peminat kain batik lawas tersebut bukan cuma datang dari dalam kota melainkan pula daerah lain. Tomi menyatakan, sejumlah pelanggannya berasal dari Medan, Palembang, dan Jakarta. Penjualan dengan cara memesan lebih cuan daripada memasarkan melalui toko.

"Kalau konsumen saya justru tidak begitu suka dengan motif baru dengan warna-warna cerah," ujar pemilik Toko Batik Kawung Solo tersebut. (Baca juga: Penenun Endek Bali Kekurangan Suplai Benang dari Daerahnya)

Penjual batik lain, Reni, mengutarakan keterangan senada bahwa kain lawas lebih diminati. Tidak hanya dalam wujud lembaran tetapi juga yang sudah menjadi pakaian. Model terbanyak dicari salah satunya setelan.

"Kami banyak memproduksi dengan harga di kisaran Rp 1,5 juta. Kalau atasan pria saja harganya sekitar Rp 350.000 sampai dengan Rp 500.000 per potong," ujar Reni. (Baca juga: Ikat Indonesia Pisahkan Basis Produksi Massal dengan Koleksi Terbatas

Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan (FPKBL) Surakarta Alpha Fabela Priyambodo sempat mengutarakan, pihaknya mendorong perajin batik berinovasi menciptakan motif baru. Corak kontemporer bisa terinspirasi dari berbagai simbol yang identik dengan Kota Solo.

"Meskipun demikian, harus dipastikan bahwa ide tersebut orisinil atau tidak meniru motif yang sudah dibuat oleh perajin lain. Harapannya ini bisa mendongkrak penjualan," kata Alpha. (Baca juga: Produktivitas Meningkat, Harga Produk Fesyen Muslim Kompetitif

Reporter: Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha