Andi Arief Sebut Rumahnya di Lampung Digerudug Polisi

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Hari Widowati

4/1/2019, 17.04 WIB

Polri membantah adanya penggerebekan atau pemanggilan paksa terhadap Andi Arief. Rumah di Lampung pun sudah dijual sejak 2014.

ilustrasi Hoax
Arief Kamaludin|Katadata

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief menyebut rumahnya di Lampung didatangi oleh polisi. Hal ini diduga terkait dengan kasus kabar bohong (hoaks) adanya tujuh kontainer surat suara dari Tiongkok di Pelabuhan Tanjung Priok yang sudah dicoblos untuk pasangan calon nomor urut 01.

Andi mengatakan, ada dua mobil dari Polda Lampung yang mendatangi rumahnya. "Rumah saya di Lampung digerudug dua mobil Polda yang mengaku cyber," kata Andi melalui akun Twitter-nya @AndiArief_, Jumat (4/11).

Ia mengaku heran dengan kedatangan polisi ke rumahnya di Lampung. Dia pun mempertanyakan apa kesalahannya sehingga didatangi oleh polisi.

Andi lantas meminta agar Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian tidak kejam terhadap rakyat. Hal tersebut disampaikan karena Andi merasa diperlakukan sebagai teroris.

Lebih lanjut, Andi menilai pengerudukan rumahnya di Lampung seperti di negara komunis. Padahal, dia mengaku akan hadir jika dipanggil dan diperlukan oleh polisi.

"Ini bukan negara komunis. Penggerudukan rumah saya di Lampung seperti negara komunis. Mohon hentikan Bapak Presiden," kata Andi.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Rachlan Nasidik menilai kedatangan polisi di rumah Andi di Lampung sebagai  upaya pemanggilan paksa. Rachlan mendesak Tito segera memberi penjelasan ihwal tersebut.

Pasalnya, Rachland menilai pemanggilan paksa hanya bisa dilakukan polisi setelah seseorang tiga kali tidak memenuhi panggilan. Sementara itu, Andi sampai hari ini belum pernah mendapatkan panggilan polisi dalam kasus apapun.

"Apabila Andi menjadi target operasi polisi, kami menilai polisi telah melakukan excessive use of power yang sepenuhnya tidak bisa diterima," kata Rachlan dalam keterangan tertulis, Jumat (4/1).

Menurutnya, Andi bukan pelaku kriminal yang dapat menjustifikasi pemanggilan paksa oleh polisi. Oleh karena itu, Andi bakal memenuhi panggilan dari polisi tanpa adanya paksaan.

Demokrat bakal mendampingi Andi memenuhi panggilan polisi. "Namun polisi berkewajiban melakukan tugas-tugasnya dalam cara yang menghormati hak-hak sipil, bukan malah melanggarnya," kata Rachlan.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo membantah pihaknya telah melakukan penggerebekan atau pemanggilan paksa terhadap Andi di rumahnya di Lampung. Menurut Dedi, rumah Andi di Lampung tersebut telah dijual.

Hal tersebut didapatkan berdasarkan informasi dari Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) dan telah diperiksa oleh Polres setempat. "Ternyata sudah dijual tahun 2014," kata Dedi.

(Baca: Dirugikan, Timses Prabowo Siap Beri Keterangan Soal Hoaks Surat Suara)

Timses Jokowi-Ma'ruf Laporkan Hoaks

Sebelumnya, Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin melaporkan kasus kabar bohong (hoaks) terkait adanya tujuh kontainer berisi surat suara Pemilu 2019 yang sudah tercoblos ke Bareskrim Mabes Polri, Kamis (3/1). TKN melaporkan pelaku pembuat rekaman suara terkait hoaks mengenai surat suara Pemilu 2019 yang telah dicoblos.

Selain itu, TKN melaporkan cuitan yang dibuat Wakil Sekretaris Jenderal Demokrat Andi Arief di akun Twitternya @AndiArief_. Andi sebelumnya sempat mencuit mengenai hoaks tersebut dan meminta pihak terkait menyelidikinya.

"Kami sudah laporkan semua rekaman suara yang beredar. Ada tiga rekaman berbeda semua suaranya dan satu twit yang disampaikan salah satu pengurus Partai Demokrat (Andi Arief)," kata Direktur Hukum dan Advokasi TKN Jokowi-Ma'ruf, Ade Irfan Pulungan, di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta.

TKN Jokowi-Ma'ruf dirugikan oleh hoaks ini karena dalam kabar yang beredar itu dikatakan surat suara dalam tujuh kontainer dicoblos untuk pasangan nomor urut 01. Hal tersebut berpotensi menimbulkan kegaduhan, kebencian, dan ketakutan di masyarakat karena ada surat suara yang telah dicoblos. Padahal, KPU telah memastikan jika belum mencetak surat suara.

Ia meminta agar polisi dapat mengusut para pelaku perekam suara hoaks terkait surat suara yang telah dicoblos. Dia pun meminta agar Andi ikut diperiksa dalam kasus ini.

Menurut Irfan, polisi perlu memeriksa sumber grup Whatsapp yang memberitahu Andi terkait hoaks surat suara yang telah dicoblos. Dengan demikian, pelaku utama penyebar hoaks itu dapat terungkap. "Supaya jelas dia (Andi) mendapatkan sumber pertama dari siapa, lalu sumber itu dari siapa," kata Irfan.

(Baca: Tindaklanjuti Laporan KPU, Bareskrim Selidiki Hoaks Surat Suara )

 

Reporter: Dimas Jarot Bayu

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha