Berkembang Spekulasi Pemangkasan Bunga AS, Rupiah Perkasa 14.200/US$

Penulis: Martha Ruth Thertina

4/1/2019, 11.01 WIB

Spekulasi pemangkasan bunga AS seiring data ekonomi yang di bawah ekspektasi. Indeks manufaktur AS jatuh ke posisi terendah sejak November 2016.

Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA

Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan di pasar spot, Jumat (4/1). Penguatan terjadi di tengah berkembangnya spekulasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), tidak akan menaikkan bunga acuannya sama sekali tahun ini, bahkan berbalik melakukan pemangkasan.

Saat berita ini ditulis, rupiah berada di level 14.268 per dolar AS atau menguat 1,03% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Penguatan tersebut merupakan yang terbesar di antara mata uang negara Asia lainnya. Penguatan juga dialami baht Thailand 0,52%, won Korea Selatan 0,39%, dan rupee India 0,38%. Dolar Singapura, peso Filipina, yuan Tiongkok, dan ringgit Malaysia juga menguat meski tipis kurang dari 0,2%.

(Baca juga: BI Isyaratkan Ada Ruang Penguatan Kurs Rupiah Kembali ke Posisi 13.500)

Di sisi lain, yen Jepang memimpin pelemahan yaitu 0,57%. Sementara itu, dolar Taiwan melemah sangat tipis 0,01%, sedangkan dolar Hong Kong stabil. Pergerakan positif dari mayoritas mata uang Asia ini sejalan dengan lebih lemahnya nilai tukar dolar AS terhadap mata uang mitra dagang utama, terlihat dari penurunan indeks dolar AS.

Adapun spekulasi investor tentang pemangkasan bunga acuan AS tercermin dari pergerakan di Fed Funds futures market – tempat traders bisa berspekulasi tentang arah bunga acuan AS. Intinya, para investor berpikir tidak ada kemungkinan kenaikan bunga acuan AS tahun ini, sedangkan spekulasi bunga acuan bakal dipangkas menguat.

(Baca juga: Gubernur BI Paparkan Peluang di Tengah Prediksi Perlambatan Ekonomi AS)

Spekulasi tersebut seiring dengan data-data ekonomi AS yang di bawah ekspektasi. Indeks manufaktur AS lebih lemah dari ekspektasi pada Desember 2018 lalu, bahkan jatuh ke posisi terendah sejak November 2016. Ini menambah kekhawatiran akan kondisi ekonomi global lantaran sebelumnya data ekonomi Tiongkok dan Eropa juga lebih lemah.

(Baca juga: Risiko Volatilitas Tinggi di Pasar Keuangan pada Paruh Pertama 2019)

Sinyal hati-hati juga datang dari The Fed. Presiden The Fed Dalas Robert Kaplan, dalam wawancaranya dengan Bloomberg, menyatakan pendapatnya bahwa The Fed perlu menahan kenaikan bunga acuan hingga ada kejelasan mengenai kondisi ekonomi.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha