KUR Produktif Tak Capai Target, BRI Siap Terima Sanksi dari Pemerintah

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Happy Fajrian

4/1/2019, 10.36 WIB

Kemenko Perekonomian akan menurunkan plafon KUR BRI sebesar 5-30% dari total tambahan plafon kredit yang diajukan sebagai sanksi tidak tercapainya target.

Nelayan Tuna
Donang Wahyu|KATADATA
Penyaluran KUR tahun 2019 akan didorong untuk nelayan, peternakan rakyat dan garam. Penyaluran KUR pada sektor kelautan dan perikanan masih di bawah 1 %.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BRI) mengaku tidak masalah bila pemerintah memberi sanksi berupa pengurangan tambahan plafon penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) karena gagal mencapai target penyaluran KUR ke sektor produktif yang ditetapkan pemerintah sebesar 50% dari total plafon KUR tahun 2018.

"Kita ikuti. Buat kami tidak masalah, tapi buat pemerintah mungkin masalah," kata Direktur Mikro dan Kecil BRI Priyastomo ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (3/1).

Sanksi yang akan diberikan kepada bank yang gagal mencapai target penyaluran kredit produktif, menurut Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian Iskandar Simorangkir, yaitu berupa pengurangan plafon KUR 5-30% dari total tambahan plafon kredit yang diajukan bank terkait.

Priyastomo mengungkapkan, penyaluran KUR sektor produktif BRI hingga akhir tahun 2018 ini akan di bawah 50% dari total plafon KUR BRI. Meski begitu, dia tidak mau menjabarkan lebih detail tentang realisasi penyaluran KUR sektor ini.

(Baca: Sepanjang 2018, Realisasi Penyaluran KUR Diperkirakan Capai 97%)

Menurut Priyastomo, realisasi penyaluran ke sektor produktif yang di bawah persyaratan tersebut karena banyaknya risiko pada sektor produktif, seperti risiko gagal panen, penjualan hasil panen, atau pun harga jual barang. Sehingga, potensi kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) untuk penyaluran KUR sektor ini cukup tinggi. "Itu yang menjadi pertimbangan kita dalam memberikan kredit," katanya.

Adapun, hingga akhir November 2018, BRI sudah menyalurkan KUR mencapai Rp 79,74 triliun atau 99,4% dari plafon KUR sebesar Rp 80,24 triliun sepanjang 2018. Dari realisasi tersebut, menurut data Kemenko Perekonomian, penyaluran di sektor produktif (sektor pertanian, perikanan, industri, konstruksi, dan jasa-jasanya) baru mencapai 43%.

Menurut Priyastomo, jika ingin meningkatkan penyaluran kredit ke sektor produktif, maka harus diiringi dengan pembangunan sektor tersebut mulai dari hulu hingga hilir. Untuk itu, BRI merasa harus membangun sistem seperti pola penyaluran hasil panen atau meningkatkan mutu hasil panen pelaku di sektor produktif.

"Jangan hulu saja, sedangkan proses dan hilirnya tidak diperhatikan. Nanti di hilirnya (produknya) jualnya ke mana? Kalau jualnya tidak jelas kan, nanti macet semua," kata Priyastomo.

Intinya, lanjut Priyastomo, BRI tidak mau terburu-buru menyalurkan KUR ke sektor produktif karena BRI mengedepankan prinsip kehati-hatian. BRI tidak mau terburu-buru menggenjot kuantitas, namun berakibat kualitas kredit yang diberikan menjadi kurang bagus.

(Baca: Bidik Peternak dan Nelayan, Plafon KUR Tahun Depan Naik Jadi Rp 140 T)

"Pengaruhnya ke NPL kalau kita grasak-grusuk. Kalau kita mau masuk produksi ayo, tetapi kan kita harus bangun dulu karena tidak semudah perdagangan (sektor non-produksi)," kata Priyastomo.

Beberapa bank lainnya pun, termasuk bank pelat merah lainnya juga belum mencapai target penyaluran KUR ke sektor produktif sebesar 50%. Menurut data Kemenko Perekonomian, bank pelat merah yang sudah mencapai target tersebut hanya Bank Tabungan Negara (BTN) yaitu sebesar 75%.

Meski demikian, plafon KUR BTN terbilang kecil dibandingkan dengan bank pelat merah lainnya, apalagi hingga November 2018 realisasi KUR BTN masih jauh dari target. Mereka baru menyalurkan Rp 94,4 miliar dari target Rp 276 miliar atau baru 34,2%.

Sementara itu, bank pelat merah lainnya, Bank Mandiri penyaluran KUR-nya senilai Rp 17,2 triliun dari target Rp 17,56 triliun. Bank Negara Indonesia (BNI) sudah menyalurkan KUR senilai Rp 15,65 triliun dari target Rp 16,44 triliun.

Adapun, secara keseluruhan industri perbankan, total penyaluran KUR hingga November 2018 mencapai Rp 118,4 triliun atau setara  95,7% dari target 2018 senilai Rp 123,8 triliun. Sedangkan, berdasarkan sektornya, hingga akhir November, porsi penyaluran KUR ke sektor produksi baru mencapai 45,6%.

(Baca: BRI Kembali Tunjuk Sunarso Jadi Wakil Direktur Utama)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha