Ekonom Lihat Peluang Besar Kurs Rupiah Balik ke Kisaran 13.000/US$

Penulis: Martha Ruth Thertina

7/1/2019, 14.19 WIB

Direktur Riset CORE menyebut penguatan tajam kurs rupiah awal tahun ini didorong oleh data positif ekonomi domestik di tengah lesunya ekonomi global.

rupiah
Donang Wahyu|KATADATA

Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal tahun ini. Rupiah sempat menyentuh level 14.021 per dolar AS pada Senin (7/1), atau yang terkuat sejak Juni tahun lalu. Kemungkinan rupiah kembali ke kisaran 13.000 per dolar AS – seperti pernah disebut Bank Indonesia (BI) dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution – pun mendekati kenyataan.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam menjelaskan, penguatan rupiah di awal tahun ini didorong oleh rilis beberapa indikator makro ekonomi yang positif. Dari sisi fiskal, realisasi penerimaan negara melebihi 100% dari target pada 2018 lalu, defisit anggaran di bawah 2%, dan defisit keseimbangan primer mendekati 0%.

Kemudian, pertumbuhan ekonomi stabil yaitu di level 5,15%, dan inflasi terjaga di level 3,13% atau sesuai rentang target 2,5-4,5%. “Indikator makro domestik tersebut ditambah lagi dengan keputusan pertamina menurunkan harga BBM nonsubsidi (memberi sentimen positif terhadap pasar keuangan Indonesia sehingga menyokong kurs rupiah),” kata dia kepada katadata.co.id, Senin (7/1).

(Baca juga: Menguat Paling Tajam di Asia, Kurs Rupiah Mendekati Level 13.000/US$)

Ia menjelaskan, membaiknya indikator makro ekonomi Indonesia di tengah lesunya ekonomi negara-negara utama – AS, Tiongkok, Eropa – memunculkan sentimen positif investor asing sehingga terjadi aliran investasi ke pasar-pasar keuangan indonesia. Hal ini terlihat dari besarnya minat pembelian surat utang negara (SUN) global yang ditawarkan oleh pemerintah pada akhir tahun lalu. Selain itu, lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada minggu pertama tahun ini.

Menurut dia, selama sentimen positif ini bisa terus dijaga, bukan tidak mungkin rupiah terus melanjutkan penguatan hingga kembali ke kisaran 13.000 per dolar AS. “Peluang untuk itu saya kira cukup besar. Selama tidak ada perubahan di global, BI akan bisa memanfaatkan momentum secara perlahan membawa rupiah mendekati level fundamentalnya kembali ke kisaran 13.000,” kata dia.

(Baca juga: BI Isyaratkan Ada Ruang Penguatan Kurs Rupiah Kembali ke Posisi 13.500)

Adapun saat berita ini ditulis, rupiah tercatat berada di level 14.054 per dolar AS. Ini artinya, rupiah telah menguat 2,33% sepanjang tahun ini (year to date).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha