Genjot Kerja Sama Dagang, Menteri Enggar Bertandang ke AS Pekan Depan

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

7/1/2019, 11.12 WIB

Terkait rencana kunjungan kerja ke Amerika Serikat (AS), Mendag telah memberikan arahan dalam rapat persiapan forum bisnis, pekan lalu.

Jokowi Pence
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Presiden Joko Widodo bersalaman dengan Wakil Presiden Amerika Serikat Michael R. Pence di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (20/4).

Indonesia berharap Amerika Serikat (AS) tetap menjadi mitra utama dalam perdagangan internasional. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita bersama perwakilan kementerian/lembaga serta asosiasi pengusaha  dijawalkan berkunjung ke AS pada 13 hingga 19 Januari mendatang untuk meningkatkan kerja sama dan hubungan perdagangan.

"Pertemuan ini bertujuan untuk meningkatkan kerja sama dan hubungan perdagangan sekaligus membahas kunjungan kerja pemerintah dalam rangka misi dagang ke AS," ujar Enggar  dalam situs resmi Kementerian Perdagangan, Jumat (4/1).

(Baca: Prospek Perdagangan 2019: Dihantui Perang Dagang dan Tekanan Ekspor)

Terkait rencana kunjungan tersebut, Enggar pun memberikan arahan dalam rapat persiapan forum bisnis untuk kunjungan kerja di AS. Arahan itu bertujuan untuk meningkatkan perdagangan kedua negara.

Pada persiapan itu, hadir di antaranya Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Oke Nurwan; Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Arlinda; Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Iman Pambagyo; dan Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan, Kasan.

Di hari yang sama, Enggar juga menerima kunjungan Duta Besar Amerika untuk Indonesia, Joseph R. Donovan Jr.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), AS merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia. Nilai transaksi perdagangan kedua negara sepanjang Januari hingga Oktober 2018 sebesar US$ 23,96 miliar.

(Baca: Indonesia dan Ekuador Rintis Perjanjian Perdagangan)

Dalam medio tersebut, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar US$ 15,47 miliar dengan dengan impor hanya US$ 8,48 miliar. Alhasil, Indonesia surplus sebesar US$ 6,99 miliar.

Terjadi penurunan total nilai neraca perdagangan sebesar 12,62% jika dibandingkan pada periode Januari sampai Oktober 2017 yang nilainya US$ 8,17 miliar. Kala itu, Indonesia  berhasil mencetak surplus lebih tinggi dengan nilai US$ 8,17 miliar dengan ekspor US$ 14,72 miliar dan impor US$ 6,55 miliar.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha