Stabilisasi Harga Beras, Bulog Diminta Operasi Pasar hingga 1 Juta Ton

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

7/1/2019, 18.22 WIB

Bulog dinilai perlu menggelar operasi pasar dalam volume yang besar karena pasokan Januari-Februari diperkirakan terbatas karena curah hujan tinggi.

Ilustrasi Beras Bulog
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Pelaku usaha meminta Perum Bulog untuk menggelar operasi pasar dengan volume  penggelontoran beras hingga 1 juta ton untuk periode Januari sampai Maret 2019. Mereka berharap, operasi pasar dalam jumlah besar  dapat menekan harga beras di tingkat produsen dan konsumen sebelum masa panen raya.

Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Soetarto Alimoeso menyatakan operasi pasar bakal membuat harga stabil. "Tidak masalah untuk Bulog karena mereka punya stok," kata Soetarto di Jakarta, Senin (7/1).

Menurutnya, Januari dan Februari merupakan masa tunggu panen raya padi yang baru memasuki masa tanam pada November dan Desember 2018. Sementara panen raya biasanya baru akan terjadi pada Maret dan April 2019.

(Baca: Target Serapan Beras Turun, Bulog Sebut Stok di Gudang Masih Cukup)

Dengan operasi pasar yang sudah dilakukan pada masa tunggu panen, Bulog tidak perlu lagi menggelar operasi pasar karena produksi petani berlebih. "Nanti, kelebihan itu yang harus dibeli oleh pemerintah lewat Bulog," ujar Soetarto yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Utama Bulog.

Alaasan lain yang mengharuskan Bulog melakukan operasi pasar dala, jumlah besar juga dituturkan Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi. Dia  menjelaskan pasokan pada bulan Januari dan Februari diperkirakan akan terbatas karena cuaca hujan tinggi. Sehingga, pemerintah perlu menggelar operasi pasar dalam volume yang besar.

Tak hanya itu, Bulog juga dinilai harus segera melakukan operasi pasar dengan mengeluarkan pasokan beras di gudang agar kapasitas yang ada bisa menampung hasil panen petani. "Tugas kita sekarang stabilisasi harga, setelah itu baru penyerapan beras petani supaya harga tidak jatuh," kata Arief.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengungkapkan pihaknya akan menjaga distribusi agar akses perdagangan beras yang lebih mudah. Dia menuturkan sistem logistik yang baik akan menekan ongkos produksi sehingga harga di tingkat konsumen bisa terjaga.

Selain itu,  harga beras juga akan stabil jika persediaan pasokan beras tercukupi, baik yang berasal dari impor maupun dari hasil panen petani. Menurutnya, harga sangat tergantung oleh permintaan dan penawaran. 

Enggar juga meminta supaya pedagang tak melakukan penimbunan beras untuk menjaga inflasi. "Sekarang stok di Bulog masih ada, sehingga suplai tersedia," ujar Enggar.

Sepanjang 2018, Bulog tercatat telah merealisasikan operasi pasar sebanyak 528.996 ton. Realisasi tersebut merupakan penggelontoran beras Bulog terbanyak sejak 2013.

(Baca juga: Bulog Operasi Pasar 500 Ribu Ton pada 2018, Terbesar dalam 5 Tahun)

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog Tri Wahyudi Saleh menjelaskan operasi pasar Bulog yang lebih dari 500 ribu ton juga merupakan operasi pasar terbesar Bulog sepanjang 10 tahun terakhir.

Tri mengungkapkan operasi pasar yang digelar Bulog bertujuan untuk menekan harga beras yang menjadi salah satu kontributor utama inflasi. Adapun saat ini, Bulog juga memiliki stok beras sekitar 2 juta ton.

"Setiap bulan kita lakukan stabilisasi karena harga gabah dan beras sudah di atas HPP (Harga Pembelian Pemerintah)," kata Tri kepada Katadata.co.id, pekan lalu.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha