Terus Terkerek Dua Faktor, Cadangan Devisa US$ 120,7 Miliar Akhir 2018

Penulis: Martha Ruth Thertina

8/1/2019, 08.10 WIB

BI optimistis cadangan devisa akan tetap memadai didukung keyakinan terhadap stabilitas dan prospek perekonomian domestik, serta kinerja ekspor.

Dolar Amerika Serikat
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Cadangan devisa meningkat pada tiga bulan terakhir tahun lalu. Bank Indonesia (BI) mengumumkan cadangan devisa sebesar US$ 120,7 miliar pada akhir Desember 2018, naik US$ 3,5 miliar dari posisi akhir bulan sebelumnya. Dua faktor terus menjadi penyebab utama kenaikan yaitu penerimaan devisa migas dan utang/pinjaman luar negeri pemerintah.

“Peningkatan cadangan devisa pada Desember 2018 terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa migas, penerbitan global bonds (surat utang global) dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah,” demikian tertulis dalam keterangan tertulis yang dipublikasikan BI, Selasa (8/1).

Terkait global bonds, pemerintah memang tercatat menerbitkan surat utang global berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 3 miliar pada Desember lalu. Tujuannya, untuk pembiayaan lebih awal (prefunding) belanja 2019.

(Baca: Pemerintah Jual Obligasi Global US$ 3 Miliar untuk Danai Anggaran 2019)

BI menyatakan, posisi cadangan devisa yang sebesar US$ 120,7 miliar setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor atau 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Ini artinya, cadangan devisa berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Maka itu, BI pun menilai cadangan devisa mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. “Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai didukung keyakinan terhadap stabilitas dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik, serta kinerja ekspor yang tetap positif,” demikian tertulis.

(Baca juga: Intervensi BI di Pasar Valas DNDF Sokong Rupiah Menguat Tajam)

Adapun cadangan devisa berbalik naik mulai Oktober 2018, setelah sebelumnya tergerus signifikan dalam kurun delapan bulan, utamanya untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo hingga intervensi nilai tukar rupiah.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha