Pengusaha Biodiesel Tegaskan Siap Bayar Denda Program B20

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

9/1/2019, 19.45 WIB

Pelaku usaha bahan bakar nabati siap membayar denda pada program mandatori B20 jika terbukti bersalah dalam keterlambatan distribusi.

biodiesel
Katadata | Arief Kamaludin

Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) menegaskan pihaknya siap melakukan pembayaran denda pada program mandatori B20 jika terbukti bersalah dalam keterlambatan distribusi. Namun, denda itu dapat disanggah karena masih dalam proses penghitungan. 

Ketua Umum Aprobi Master Parulian Tumanggor menyatakan pengenaan denda masih dalam proses sanggahan. "Sedang dihitung, tapi kami pasti bayar tergantung denda yang dikenakan  perusahaan," kata Tumanggor di Jakarta, Rabu (9/1).

(Baca: Selama 2018, Program B20 Hemat Devisa Rp 28,4 triliun)

Meski berjanji melakukan pembayaran, Tumanggor meminta penghitungan denda dilakukan secara adil. Dia tidak ingin penghitungan langsung dilakukan berdasarkan pada volume pengiriman Fatty Acid Methyl Esters (FAME) yang terlambat sampai kepada penyalur bahan bakar minyak.

Contohnya, jika produsen biodiesel terlambat dua hari untuk mengirimkan 4 ribu kiloliter pasokan FAME, denda tak dikalikan langsung volume keseluruhan. Namun, menghitungnya berdasarkan penggunaan harian dikalikan waktu keterlambatan.

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 41 Tahun 2018, telah menyebutkan besaran denda  yang akan dikenakan bagi pelanggar yaitu sebesar Rp 6 ribu per liter. Dengan demikian, jika penggunaan harian sebesar seribu kiloliter seharusnya untuk pengkali keterlambatan menjadi 2 ribu kiloliter, bukan 4 ribu kiloliter.

Namun, ketika disinggung mengenai siapa saja perusahaan  bahan bakar snabati yang dikenai denda keterlambatan, Tumanggor enggan menjabarkan. Dia mengaku penyalurannya sudah berjalan dengan baik. 

Sepanjang 2018, program B20 berhasil menghemat devisa sebesar Rp 28,4 triliun. Penghematan ini terjadi akibat berkurangnya impor Solar.

(Baca: Distribusi Lancar, Serapan Sawit untuk Biodiesel per November Naik 17%)

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan selama tahun 2018, produksi biodiesel mencapai 6 juta kiloliter (KL). Capaian itu setara dengan 105% dari target yang telah ditetapkan, yaitu sebesar 5,7 juta kl.

Dari produksi tersebut, sebesar 4,02 juta kiloliter (KL) untuk program B20 baik subsidi maupun tidak, sisanya ekspor. “Jadi boleh dikatakan sesuai harapan kami," kata Rida, Selasa (8/1) lalu.

Sementara pada tahun ini, produksi biodiesel ditargetkan bisa mencapai 6,2 juta kl. Jika, target itu tercapai, maka devisa yang bisa dihemat dari program ini bisa mencapai US$ 3 miliar.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha