Polisi Dalami Aktor Intelektual dan Penyandang Dana Hoaks Surat Suara

Penulis: Hari Widowati

10/1/2019, 17.22 WIB

Kemungkinan munculnya tersangka baru tergantung dari hasil pemeriksaan dan bukti-bukti yang dikumpulkan polisi.

Hoax
ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha
Warga membubuhkan cap tangan saat aksi \"Kick Out Hoax\" di Solo, Jawa Tengah, 8 Januari 2017.

 

Polisi masih mendalami aktor intelektual dan penyandang dana di balik penyebaran berita bohong (hoaks) surat suara sebanyak tujuh kontainer di Tanjung Priok yang sudah dicoblos. Kemungkinan munculnya tersangka baru tergantung dari hasil pemeriksaan dan bukti-bukti yang dikumpulkan polisi.

"Aktor intelektualnya masih didalami dulu," ujar Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo seperti dikutip Antara, di Gedung Mabes Polri, Jakarta, Rabu (10/1). Untuk mengungkap aktor intelektual, dibutuhkan jejak komunikasi meskipun gawai serta kartu SIM tersangka telah dibuang.

Menurut Dedi, sebelum menetapkan Bagus Bawana Putra (BBP) sebagai tersangka pembuat konten hoaks surat suara yang sudah dicoblos, polisi membutuhkan hasil analisis dan alat bukti yang sangat matang. Polisi benar-benar memastikan suara dalam rekaman hoaks yang beredar cocok dengan tersangka.

"Sama dengan calon tersangka yang lain juga demikian. Artinya, harus ada analisis yang sangat matang dan proses pembuktian ilmiah harus clear. Apalagi itu jejak digital bukan sembarangan," kata Dedi.

Untuk mengetahui siapa penyandang dana pembuat berita bohong tersebut, polisi juga mendalami keterangan BBP sebagai pembuat maupun buzzer (penyebar) kabar bohong itu. Seperti diketahui, tersangka BBP mengaku sebagai relawan salah satu calon presiden (capres), yakni sebagai Ketua Dewan Koalisi Relawan Nasional (Kornas) Prabowo.

Namun, dalam kasus ini polisi tidak melihat aliansi BBP kepada salah satu kubu. Polisi akan berpedoman pada penegakan hukum atas perbuatan yang dilakukan tersangka.

"Dari fakta hukum belum ditemukan dan ini belum selesai. Kami secepatnya mengungkap kasus ini biar tidak menjadi polemik," kata Dedi. Dengan penangkapan BBP, hingga kini sudah ada empat tersangka kasus hoaks tujuh kontainer surat suara.

(Baca: Megawati Sebut Hoaks di Pemilu 2019 Lebih Masif)

Sebelumnya, tiga orang yang ditetapkan sebagai tersangka adalah HY yang ditangkap di Bogor, LS di Balikpapan dan J di Brebes, tetapi tidak dilakukan penahanan karena hanya turut menyebarkan hoaks tersebut.

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno membantah mengenal atau memiliki hubungan dengan Kornas Prabowo maupun BBP. Direktur Direktorat Relawan BPN Prabowo-Sandiaga, Ferry Mursyidan Baldan, mengatakan Kornas Prabowo tak terdaftar dalam daftar relawan Prabowo-Sandiaga.

"Setelah kita cek kita enggak kenal Kornas ini. Orang bisa saja deklarasi Kornas Prabowo-Sandi," kata Ferry di Media Center Prabowo-Sandiaga, Jakarta, Rabu (9/1). BPN Prabowo-Sandiaga memang membuka ruang bagi semua orang dan kelompok untuk mendaftar menjadi relawan. Saat ini, sudah ada 700 kelompok yang terdaftar sebagai relawan Prabowo-Sandiaga.

Ferry mengatakan, nama BBP dan Kornas Prabowo tak terdaftar di empat tempat berkumpul relawan, yakni Rumah Aspirasi, Sekretariat Nasional (Seknas), Roemah Djoeang, dan M16. Seluruh tempat itu berlokasi di Jakarta.

(Baca: Timses Prabowo-Sandi Bantah Kenal Tersangka Pembuat Hoaks Surat Suara)

Reporter: Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha