OJK Targetkan 75 Perusahaan Masuk ke Pasar Modal Tahun Ini

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Happy Fajrian

11/1/2019, 21.38 WIB

Perusahaan-perusahaan tersebut akan memanfaatkan pasar modal untuk mencari pendanaan yang kompetitif melalui berbagai instrumen investasi.

Wimboh OJK
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan ada 75 hingga 100 perusahaan yang mencari pendanaan melalui berbagai macam instrumen di pasar modal. Target tersebut meningkat dari jumlah perusahaan yang mencari pendanaan melalui pasar modal tahun ini yaitu sebanyak 62 perusahaan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, jumlah emiten di pasar modal pada 2018 saja sudah tinggi karena jauh di atas capaian pada tahun 2017 sebanyak 46 emiten. "Proyeksi 75-100 emiten baru di tahun 2019 yang akan didominasi oleh emisi obligasi atau sukuk korporasi," kata Wimboh dalam acara Pertemuan Tahuhan OJK di Jakarta, Jumat (11/1).

Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri menargetkan jumlah perusahaan yang bakal go public menggunakan skema penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) tahun ini hanya 35 perusahaan. Namun, berdasarkan pipeline perusahaan penjamin efek (underwriter) jumlah perusahaan yang siap untuk IPO tahun ini ada 45 perusahaan.

(Baca: Pendanaan Lewat Pasar Modal Bisa Tembus Rp 200 Triliun Tahun Depan)

Wimboh menambahkan, jumlah emisi dari perusahaan-perusahaan yang melakukan pendanaan melalui pasar modal dengan berbagai instrumen, ditargetkan senilai Rp 200-250 triliun tahun ini. Target nilai emisi pada 2019 ini sebenarnya sama dengan target emisi tahun lalu. Namun, realisasi nilai penghimpunan dana pada 2018 hanya sebesar Rp 166 triliun.

"Nominalnya Rp 166 triliun, memang angkanya relatif rendah. Itu karena ada strategi pricing yang sedikit berbeda pada tahun lalu," kata Wimboh.

Capaian penghimpunan dana di pasar modal 2018 dinilai cukup positif mengingat kondisi perekonomian global penuh dengan ketidakpastian yang disebabkan adanya perang tarif antara dua perekonomian besar di dunia, Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

OJK pun akan memperbanyak alternatif pembiayaan jangka menengah dan panjang bagi sektor strategis, melalui pengembangan pembiayaan pasar modal untuk mencapai target-target tersebut. Hal itu menjadi salah satu fokus strategi OJK dalam mengarungi tahun 2019.

(Baca: Investor Asing Borong Saham Rp 800 Miliar, IHSG Naik 0,52%)

Adapun, OJK akan mendorong, memfasilitasi, dan memberikan insentif kepada calon emiten untuk melaui penerbitan efek berbasis utang maupun syariah. Mereka dapat memanfaatkan beberapa produk seperti melalui Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT), Efek Beragunan Aset (EBA), Dana Infestasi Real Estate (DIRE), dan Dana Investasi Infrastruktur (Dinfra).

Selain itu, ada beberapa instrumen derifatif seperti seperti Indonesia Goverment Bond Futures (IGBF), Medium Term Notes (MTN), dan pengembangan produk investasi berbasis syariah seperti Sukuk Wakaf. "Monggo calon emiten kita fasilitasi untuk masuk pasar modal. Nanti, insentif kita pikirkan bersama," kata Wimboh.

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha