Pemerintah Bidik Ekspor Industri Furnitur Rp 71 Triliun

Penulis: Ekarina

11/1/2019, 10.33 WIB

Industri furnitur merupakan salah satu sektor strategis menopang perekonomian nasional, karena bersifat padat karya dan berorientasi ekspor.

Meubel Kayu
Antara Foto/Syifa Yulinnas
Seorang pekerja sedang menyelesaikan pembuatan meubel berbahan baku kayu di salah satu industri meubel di Aceh Timur. Ekspor meubel saat ini cukup menjadi andalan pemerintah.

Pemerintah menargetkan ekspor furnitur nasional naik mencapai US$ 5  miliar  atau setara  Rp 71 triliun (kurs Rp 14.200 per dolar Amerika Serikat) dalam dua tahun ke depan. Target tersebut diharapkan tercapai seiring dengan peningkatan pasar ekspor dan pengembangan produk menjadi lebih kompetitif.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong agar produk hasil industri furnitur dapat diekspor ke beberapa pasar utama, seperti Amerika Serikat.

"Pemerintah mendorong agar industri berorientasi ekspor seperti furnitur ini, produk sepenuhnya diekspor ke Amerika. Salah satu cara untuk meningkatkan ekspor adalah dengan kapasitas," kata Menteri Airlangga usai meresmikan Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu di Kawasan Industri Kendal (KIK) Jawa Tengah, Kamis (10/1).

(Baca: Kawasan Industri Kendal Serap 5.000 Pekerja Sepanjang Tahun Ini)

Menurut dia, industri furnitur merupakan salah satu sektor strategis dalam menopang perekonomian nasional, karena bersifat padat karya dan berorientasi ekspor.

Kemenperin mencatat pada periode Januari-Oktober 2018, neraca perdagangan produk furnitur nasional surplus sebesar  US$ 99,1 juta dengan nilai ekspor sebesar US$ 1,4 miliar, tumbuh 4,83% dari periode yang sama di tahun sebelumnya.

Meskipun tumbuh positif, kinerja ekspor furnitur masih relatif kecil dibandingkan dengan potensi bahan baku yang dimiliki, mengingat Indonesia merupakan satu dari 10 Negara yang memiliki hutan terluas di dunia dengan lebih kurang 46,46% dari wilayah Indonesia merupakan kawasan perhutanan.

Oleh karena itu, pemerintah berupaya mengoptimalkan potensi industri furnitur nasional melalui beberapa kebijakan, antara lain melalui program bimbingan teknis produksi, fasilitas Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK), promosi dan pengembangan akses pasar.

(Baca: Kinerja Bisnis Furnitur Jateng Terpacu Kawasan Industri Kendal)

Selain itu, pemerintah juga akan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) khusus industri furnitur yang kompeten melalui pembangunan Politeknik Industri Furnitur di Kawasan Industri Kendal.

Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu basis industri furnitur yang mampu menyumbang hingga 57% dari total ekspor furnitur nasional.

Dengan target peningkatan ekspor nasional mencapai US4 5 miliar, Airlangga memperkirakan kebutuhan tenaga kerja furnitur khususnya di Jawa Tengah meningkat sebanyak 101.346 orang dalam dua tahun ke depan.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha