PKB Dinilai Bakal Mampu Menangkan Posisi Empat Besar Pileg 2019

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Hari Widowati

11/1/2019, 09.29 WIB

PKB dinilai terbantu oleh sosok Ma'ruf Amin yang dinilai memiliki basis massa yang solid, khususnya di pesantren-pesantren.

Jokowi di Konsolidasi PKB
ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN
Presiden Joko Widodo berpidato di acara Konsolidasi Caleg Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Balai Sarbini, Jakarta (17/12).

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dinilai bakal mampu memenangkan posisi empat besar dalam Pemilihan Legislatif 2019. PKB dinilai mampu menggusur Demokrat yang sebelumnya berada di posisi keempat pada Pileg 2014.

Berdasarkan survei teranyar Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, elektabilitas PKB pada Desember 2018 mencapai 6,9%. Perolehan suara PKB tersebut meningkat 0,7% dibandingkan survei pada November 2018 yang sebesar 6,2%.

Sementara, elektabilitas Demokrat sebesar 3,3%. Elektabilitas partai berlambang bintang mercy tersebut turun 0,8% dibandingkan survei bulan sebelumnya yang sebesar 4,1%.

Di posisi teratas masih ditempati PDIP dengan elektabilitas sebesar 27,7%. Gerindra dan Golkar menyusul dengan perolehan suara masing-masing sebesar 12,9% dan 10%.

"PDIP dan Gerindra sangat mungkin masih tetap (elektabilitas tertinggi). Golkar dan PKB (urutan selanjutnya). Demokrat sepertinya di luar empat besar," kata Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute Gun Gun Heryanto kepada Katadata di Jakarta, Kamis (10/1).

(Baca: Minus Nasdem, PKS & PBB, 13 Parpol Teken Pakta Integritas Antikorupsi)

Efek Ma'ruf Amin 

Menurut Gun Gun, PKB dapat memperoleh posisi empat besar lantaran terbantu kampanye yang dilakukan calon wakil presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin. Selama ini, Ma'ruf dalam kampanyenya kerap diasosiasikan dengan PKB.

Hal tersebut membuat basis dukungan massa, terutama di pesantren, solid mendukung PKB. "Ada insentif elektoral yang rajin juga mempromosikan Pak Ma'ruf, terutama di pesantren-pesantren," kata Gun Gun.

PKB pun kerap diasosiasikan dengan Nahdlatul Ulama (NU). NU diketahui memiliki basis massa yang cukup besar di Indonesia sehingga mampu mendongkrak elektabilitas PKB.

Tak hanya itu, Gun Gun menilai PKB relatif minim konflik internal saat ini. Hal tersebut membuat kerja mesin partai lebih optimal. "Kalau dulu kan terbelah, karena konflik Gus Dur, Yenny Wahid. Sekarang kan nyaris tidak ada efek itu," kata Gun Gun.

Sementara itu, posisi Demokrat dapat semakin menurun lantaran minim figur yang bisa mendongkrak elektabilitas. Selain Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), belum ada lagi sosok yang bisa menguasai panggung politik Indonesia.

Popularitas putra SBY yang juga Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) masih belum terlalu kuat. Di sisi lain, popularitas SBY setelah lengser dari kursi Presiden RI pada 2014 telah menurun.

"Ketiadaan figur setelah SBY itu berpengaruh besar ke Demokrat," kata dia. Karenanya, Demokrat diminta mencari figur yang cukup memiliki popularitas agar dapat mendongkrak elektabilitas Demokrat kembali naik.

(Baca: Dukungan Setengah Hati Parpol untuk Modal Kampanye Capres)

Reporter: Dimas Jarot Bayu

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha