Didukung Sistem Modern, Mentan Bidik 1 Juta Milenial jadi Petani

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

14/1/2019, 19.35 WIB

Menurut Mentan, transformasi pertanian dari sistem tradisional menjadi modern berpotensi meningkatkan pendapatan petani hingga Rp 316 triliun per tahun.

Lahan tani
ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
Lahan pertanian di Sleman, Yogyakarta, 20 Januari 2017.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menargetkan 1 juta generasi milenial  bisa berprofesi sebagai petani. Dengan sistem teknlogi dan modernisasi pertanian yang semakin canggih diharapkan bisa menjadi daya tarik para pelaku usaha muda untuk terjun ke sektor ini.

Amran mengklaim sebanyak 400 ribu generasi milenial sudah berprofesi sebagai petani karena ketertarikan pada sistem modern. "Targetnya tahun ini mudah-mudahan mencapai 1 juta orang," kata dia di Jakarta, Senin (14/1).

(Baca: Mentan Klaim Berhasil Capai Inflasi Bahan Pangan ke Level Terendah)

Menurut Amran, transformasi pertanian dari sistem tradisional menjadi modern berpotensi meningkatkan pendapatan keseluruhan petani hingga Rp 316 triliun per tahun. Kementerian Pertanian pun mengatakan telah berupaya mendorong melalui pemberian alat bantu dan mesin pertanian sebanyak 100 ribu unit per tahun.

Dia menambahkan, mesin pertanian modern mampu menghemat biaya tanam sebesar 30% atausekitar Rp 8,6 triliun selama setahun. Rendemen padi yang berubah jadi beras pun naik menjadi 9% dengan nilai sebesar Rp 28 triliun.

Selain itu, Amran juga menyebutkan bantuan dalam bentuk traktor otomatis, rice processing complex, serta alat penyiangan juga bisa tiga kali lebih cepat dibanding alat tradisional dengan potensi penghematan Rp 7 triliun. "Mekanisasi adalah kunci pertanian modern," ujarnya.

Selain bantuan alat dan mesin pertanian, dia menyebutkan pendidikan vokasi melalui politeknik pembangunan pertanian juga jadi acuan menarik minat generasi millenials. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, jumlah pendaftar pada 2016 sebesar 1.908 orang, naik menjadi 7.097 orang per 2017. Adapun pada 2018, jumlah peserta  juga disebut meningkat pesat jadi 13.111 pendaftar. "Pendidikan pertanian itu semakin diminati," katanya.

(Baca: Ekspor Produk Peternakan pada Januari-November 2018 Naik 3,19%)

Pendidikan vokasi diharapkan mampu mendongkrak daya saing sumber daya manusia pertanian serta mencetak generasi muda yang berorientasi ekspor. 

Berdasarkan data Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, jumlah mahasiswa juga terus meningkat. Mahasiswa pertanian tahun 2010 sebanyak 173.158 orang dan meningkat pada 2018 menjadi 284.259 mahasiswa. Tahun 2025, Amran memprediksi ada sebanyak 536 ribu orang mahasiswa pertanian.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha