Rupiah dan Won Tertekan Setelah Tiongkok Rilis Data Ekspor yang Anjlok

Penulis: Martha Ruth Thertina

14/1/2019, 18.27 WIB

Pemerintah Tiongkok melansir ekspor Desember merosot 4,4% secara tahunan. Ini disebut-sebut memicu kekhawatiran terkait pertumbuhan ekonomi dunia.

uang rupiah
KATADATA
uang rupiah

Nilai tukar rupiah dan mayoritas mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (14/1) pekan ini. Pelemahan seiring dirilisnya data ekspor Tiongkok yang anjlok pada Desember lalu sehingga memicu kekhawatiran atas pertumbuhan ekonomi global.

Won Korea Selatan melemah paling besar yaitu 0,62%, diikuti rupiah 0,55% ke level Rp 14.124 per dolar AS, rupee India 0,40%, peso Filipina 0,3%, dolar Taiwan 0,22%, ringgit Malaysia 0,15%, dolar Singapura 0,06%, baht Thailand 0,08%, yuan Tiongkok dan dolar Hong Kong masing-masing 0,06%. Di sisi lain, yen Jepang menguat 0,36%.

Mengutip Reuters, pemerintah Tiongkok melansir ekspor merosot 4,4% secara tahunan. Penurunan ini merupakan yang terbesar dalam dua tahun terakhir. Impor juga mengalami kontraksi paling besar sejak Juli 2016. “Sekarang investor menjadi kurang terdistraksi oleh versi romantis pembicaraan manis AS-Tiongkok,” kata Senior Ekonom Mizuho Bank Vishnu Varathan.

(Baca: Rupiah Bertengger di Kisaran 14.000/US$, BI Nilai Masih Terlalu Murah)

Sementara itu, ekonom Bank OCBC menyatakan ketegangan hubungan dagang AS-Tiongkok yang berlarut-larut telah mendorong banyak investor asing menarik dana dari Korea Selatan yang ekonominya berbasis ekspor. Sementara di Indonesia, rupiah melemah menjelang dirilisnya data perdagangan Desember pada Selasa (15/1).

Sebelumnya, Ekonom UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja juga memperingatkan volatilitas di pasar keuangan masih akan tinggi pada semester I 2019. Ini bakal memengaruhi nilai tukar mata uang. "(Penyebab) yang paling utama divergensi kebijakan moneter yang dipimpin AS. Faktor ini akan berhenti atau mereda pada akhir semester 1," kata dia.

(Baca: Naik atau Turunnya Bunga AS Dinilai Bakal Mengancam Ekonomi Indonesia)

Perkembangan negosiasi dagang AS-Tiongkok juga akan memengaruhi pasar keuangan. "US-Tiongkok sedang gencatan senjata untuk menemukan titik tengah pada 28 Februari. Jadi, kuartal pertama kita akan seru seperti roller coaster," ujarnya. Faktor lainnya yang memengaruhi yaitu keputusan Brexit.

Menurut dia, volatilitas akan terasa pada negara berkembang yang sektor eksternalnya lemah. Sektor eksternal yang dimaksud meliputi cadangan devisa dan neraca transaksi berjalan. Hal ini seperti tergambar pada tahun lalu.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha