IHSG Dibuka Positif 0,32%, Sentimen Eksternal Akan Jadi Penggerak

Penulis: Happy Fajrian

18/1/2019, 10.46 WIB

Penutupan pemerintahan AS masih berlangsung, serta Brexit yang tidak jelas arahnya. Sektor tambang dan keuangan berpotensi dorong IHSG.

BEI
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Suasana Bursa Efek Indonesia

Mengawali perdagangan saham hari ini, Jumat (18/1), indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak naik 0,32% ke level 6.444,21. Sayangnya, hingga berita ini ditulis, IHSG sempat jatuh ke zona hijau dengan koreksi 0,17% ke level 6.412,73, walau sempat naik hingga ke level 6.452,56.

Kinerja IHSG senada dengan kinerja bursa saham di kawasan Asia lainnya yang mengawali perdagangan di zona hijau. Indeks Nikkei naik 1,28%, indeks Shanghai naik 1,11%, indeks Hang Seng naik 1,22%, indeks Straits Times naik 0,51%, dan indeks Kospi naik 0,65%. Yang membedakan, indeks-indeks tersebut saat ini masih konsisten bergerak di zona hijau.

Sentimen eksternal akan banyak mewarnai pergerakan IHSG dan bursa saham Asia lainnya. Dari dalam negeri suasana politik semakin meriah dengan dimulainya debat perdana pasangan calon presiden dan wakil presiden. Namun analis menilai debat tersebut tidak akan berpengaruh terhadap pergerakan saham.

(Baca: Pilpres Mampu Pengaruhi Investor Asing di Pasar Modal)

Investor akan bereaksi ketika pemilu presiden sudah ada hasilnya sehingga arah kebijakan ekonomi akan dapat lebih diprediksi. Investor asing pun diperkirakan akan terus masuk karena fundamental ekonomi Indonesia saat ini sedang baik. Walaupun pergantian presiden berpotensi menahan aliran dana asing ke pasar saham Indonesia.

"Ini masih sangat awal dan spekulatif. Masing-masing Capres memiliki kebijakan masing-masing. Sebaiknya, kita tunggu kebijakan yang lebih presisi saat debat Capres nanti. Asing tentu terus mengamati dan dinamika akan terus berjalan," kata analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra.

Senada, analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan, kalaupun terjadi pergantian presiden, dana asing akan tetap masuk, namun investor asing akan menunggu arah pemerintahan yang baru.

"Mereka (asing) akan mencermati arah pemerintahan yang baru, jika masih seiring dengan yang sudah berjalan, maka kemungkinan mereka akan optimis kembali," kata William.

Sehingga, sementara ini sentimen eksternal akan menjadi faktor yang masih memengaruhi pergerakan IHSG, di antaranya penutupan layanan publik di Amerika Serikat (AS) yang masih belum ketahuan kapan akan berakhir. Padahal bank sentral AS, The US Federal Reserve (The Fed) telah memprediksi pertumbuhan ekonomi AS akan melambat 0,1% tiap satu pekan selama penutupan berlangsung.

(Baca: IHSG Naik 0,16%, Saham Bank Jadi Primadona Investor Asing)

Sementara itu, nasib Brexit juga masih di ujung tanduk. Parlemen Inggris menolak kesepakatan Brexit antara Inggris dan Uni Eropa (UE). Sehingga ada kemungkinan Brexit akan tetap berlangsung tanpa ada kesepakatan apapun antara Inggris dengan UE. Pasalnya UE menegaskan tidak akan mengadakan negosiasi ulang kesepakatan tersebut.

Harga batu bara yang kini menyentuh level US$ 100 per metrik ton juga akan menjadi faktor penggerak IHSG melalui sektor tambang. Saham-saham di sektor ini naik cukup signifikan dengan adanya kenaikan harga batu bara tersebut.

Serta dari sektor keuangan, terutama perbankan, yang prospeknya lebih cerah setelah Bank Indonesia menahan kenaikan suku bunga acuannya, BI 7 days repo rate, pada level 6%. Sehingga industri perbankan tidak perlu menaikkan suku bunga simpanan ataupun pinjamannya untuk menyesuaikan dengan bunga acuan.

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha