Masalah Bahasa hingga Keamanan Hambat Adopsi Internet di Indonesia

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

18/1/2019, 14.43 WIB

Negara lain, seperti Tiongkok dan India punya masalah serupa.

Internet desa
Donang Wahyu|KATADATA
Seorang pria menunjukan koneksi internet menggunakan sarana Wifi yang hadir hingga di tengah jalan desa yang di kelilingi persawahan di desa Melung, kecamatan Kedung Banteng, Banyumas, Jawa Tengah.

Jumlah penduduk dan pengguna internet di Indonesia, India, dan Tiongkok memang besar. Namun, penetrasi internet di ketiga negara ini bukan tanpa hambatan. Booking Holdings Inc mencatat, bahasa menjadi salah satu penghambatnya.

Booking Holdings Inc melakukan survei terhadap 1.202 responden, yang merupakan ahli dan pemimpin perusahaan teknologi di ketiga negara itu selama 31 Juli sampai 22 Agustus 2018. Sebanyak 76% di antaranya menyebut bahasa adalah kendala penetrasi internet.

CEO Booking Holdings Glenn Fogel menyampaikan, dominasi bahasa Inggris dalam kegiatan online menghalangi masyarakat di ketiga negara itu untuk sepenuhnya berpartisipasi dalam kehidupan digital. Padahal, transaksi secara online bisa memaksimalkan pertumbuhan ekonomi.

"Ketika konsumen ini akhirnya terhubung ke internet, maka dimungkinkan untuk mempercepat pertumbuhan berbagai bidang termasuk pasar retail, pasar kerja,  lanskap rekreasi dan hiburan," kata Glenn dalam siaran pers yang diterima Katadata, Jumat (18/1).

(Baca: Smartfren Targetkan Ambil Alih 100 ribu Pelanggan Bolt)

Lalu, 76% responden menyebutkan, kurangnya layanan Internet yang terjangkau menjadi penghalang utama. Kemudian, 84% responden mengatakan keamanan online yang buruk menjadi penghambat penetrasi internet.

Hambatan lainnya adalah kekhawatiran tentang sensor pemerintah yang disampaikan oleh 71% responden; kurangnya konten lokal yang bermanfaat 68%; ketakutan akan teknologi baru 57%.

Meski begitu, masyarakat di ketiga negara menyadari internet sangat dibutuhkan. Sebanyak 79% responden menganggap internet sebagai kebutuhan dasar dan 82% lainnya menyebut akses internet adalah hak mendasar. Lalu, 9 dari 10 responden percaya, peningkatan akses Internet akan mengangkat status sosial mereka dan berdampak secara ekonomi.

Selain itu, 78% responden percaya bahwa harus ada kesetaraan bagi seluruh warga negara untuk memperoleh akses konektivitas internet. Kemudian, 86% mengatakan bahwa peningkatan 
kesetaraan gender akan mendorong adopsi internet. Lalu, 91% mengatakan partisipasi digital juga akan meningkatkan kesetaraan gender di negaranya.

(Baca: Bisnis Telekomunikasi Diprediksi Minus, Operator Garap Layanan Digital)

Terlepas dari hambatan tersebut, tingkat penetrasi internet di Asia diperkirakan akan sebanding dengan negara-negara Barat. DI mana, setidaknya satu miliar orangakan tersambung secara online pada 2019. Internet ini paling banyak digunakan untuk mengakses media sosial; mengonsumsi berita; membeli barang dan jasa; hiburan; mencari kerja; dan, memesan makanan.

Adapun Booking Holdings adalah perusahaan penyedia jasa perjalanan online dan layanan terkait. Booking Holdinhs beroperasi di lebih dari 220 negara, melalui enam merek utama yakni Booking.com, KAYAK, agoda.com, Rentalcars.com, dan OpenTable.

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan