Penjualan Antam Tahun 2018 Meningkat 99%, Tertinggi Disumbang Emas

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Arnold Sirait

1/2/2019, 12.36 WIB

Penjualan emas meningkat karena menggandeng Pos Indonesia dan Bank Jabar Banten Syariah.

Emas Antam
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Petugas menunjukkan imitasi emas logam mulia produk PT Aneka Tambang (Antam) yang dipamerkan di gerai Antam dalam sebuah pameran di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Minggu (9/9).

Penjualan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk selama tahun 2018 meningkat 99% menjadi Rp 25,22 triliun. Penyumbang terbesar adalah penjualan emas, yang berkontribusi 66% atau Rp 16,69 triliun. Jika ditambah dengan perak menjadi Rp 16,98 triliun. 

Adapun penjualan emas tahun lalu mencapai 27.894 kilogram (kg). Angka itu naik 111% dari tahun sebelumnya yang hanya 13.202 kg. Sedangkan, penjualan perak tahun 2018 sebesar 18.357 kg atau naik dari periode sebelumnya 7.390 kg.

Penjualan emas tahun lalu meningkat karena Antam terus melakukan invoasi. Salah satunya adalah bekerja sama dengan PT Pos Indonesia (Persero) untu menjual produksinya di 205 kantor pos pemeriksaan sejak Juli 2018.

Inovasi lainnya adalah menggandeng PT Bank Jabar Banten Syariah untuk menjual emas di Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta. Kerja sama ini dilakukan sejak September 2018.

Tak hanya emas, penjualan Antam juga berasal dari feronikel sebesar Rp 4,7 triliun. Secara volume, penjualan komoditas ini naik 14% dari 21.878 ton nikel dalam feronikel (TNi) pada 2017 menjadi 24.135 TNi.  

"Peningkatan ini sejalan dengan tercapainya stabilitas produksi pabrik feronikel Antam di Pomalaa dengan kapasitas produksi terpasang 27.000 TNi per tahun," dikutip dari keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Jumat (1/2). 

Untuk penjualan bijih nikel pada 2018 sebesar 6,33 juta wmt, atau meningkat 115% dibandingkan pada periode 2017 sebesar 2,93 juta wmt. Nilai penjualannya mencapai sebesar Rp 2,98 triliun atau tumbuh 117% dibandingkan periode 2017 sebesar Rp 1,36 triliun.

Kemudian, penjualan bauksit Antam sebesar 920 ribu wmt atau naik sebesar 9% dibandingkan penjualan pada periode 2017 sebesar 838 ribu wmt. Adapun, nilai penjualannya tercatat Rp 459 miliar. Jika ditambah dengan penjualan batu bara menjadi Rp 511 miliar. 

(Baca: Filipina dan Tiongkok Berebut Jadi Mitra Antam Membangun Smelter)

Eksplorasi

Selain penjualan, Antam melaporkan aktivitas eksplorasinya selama 2018. Sepanjang tahun lalu, anak usaha PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) ini melakukan eksplorasi emas di Pongkor, Cibalung dan Tinjauan. Semuanya berada di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Di wilayah Pongkor, kegiatan dilakukan yaitu dengan model geologi pemboran. Sedangkan, di Cibalung kegiatan yang dilakukan yaitu pemboran itu. Adapun, total biaya eksplorasi ini mencapai Rp 14,31 miliar.

Antam juga melakukan eksplorasi nikel pada 2018 yang dilakukan di daerah Pomalaa dan Tapinopaka. Biaya eksplorasi sebesar Rp 16,84 miliar.

Lalu, kegiatan eksplorasi bauksit Antam dilakukan di daerah Mempawah, Kalimantan Barat. Biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 1,56 miliar.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha